PekerjaKantoran.com - Gen Z, yang merupakan angkatan kerja termuda saat ini, tampaknya menjadi generasi pertama yang bekerja secara jarak jauh (remote) sejak awal memasuki dunia kerja. Hal ini dipicu imbauan untuk menjaga jarak saat pandemi Covid-19 melanda dunia, sehingga kantor-kantor memberlakukan aturan bekerja dari rumah (working from home).
Aturan ini ternyata sangat disukai oleh Gen Z. Ketika harus mengikuti rapat, misalnya, Gen Z lebih senang untuk rapat lewat Zoom Meeting atau Face Time ketimbang rapat secara tatap muka. Padahal, fenomena ini bertentangan dengan kultur perusahaan yang mengutamakan team work. Salah satunya, PT Bank Central Asia Tbk. (BCA).
Baca Juga: Gen Z Rela Diberi Tugas dan Posisi Rangkap Demi Imbalan Lebih dan Kenaikan Karier
“Selama pandemi Covid-19, BCA menerapkan work from home. WFH ini sangat diinginkan oleh Gen Z. Padahal, BCA sangat memperhatikan poin team work atau kolaborasi. Di sisi lain, karyawan yang bekerja secara online membuat proses monitoring tugas menjadi lebih sulit,” ungkap Executive Vice President Human Capital Management Division PT BCA Rudi Lim.
Untuk menjembatani dua kebutuhan tersebut, BCA menerapkan strategi work from hub. “Jadi, karyawan Gen Z tidak perlu datang ke kantor pagi hari. Mereka bisa bekerja dari hub yang sudah ditentukan, lokasinya pun biasanya lebih dekat dari rumah," ujarnya, dalam acara HR Talk 2022 dengan tema "A Framework for Leveraging the Uniqueness of the Generation Z di Jakarta akhir pekan lalu.
Enggan bekerja di bank
Kehadiran Gen Z di dunia kerja, terutama BCA, membawa nafas baru bagi bank yang sudah berdiri selama 65 tahun tersebut. Tumbuhnya startup-startup teknologi membuat Gen Z cenderung “berkiblat” ke perusahaan-perusahaan jenis itu. Sebagai perusahaan bank konvensional, BCA harus “merebut hati” mereka dengan berbagai cara.
Baca Juga: Ternyata Bukan Gen Z yang Lebih Suka Work From Home!
“Banyak Gen Z yang enggan bekerja di bank karena dinilai sebagai perusahaan yang konservatif. Untuk menyiasati hal tersebut BCA mulai melakukan pendekatan melalui jalur media sosial dan berkunjung ke kampus-kampus agar perusahaan bisa bertatap muka langsung dengan Gen Z,” tambahnya.
Merekrut Gen Z adalah pilihan yang tak bisa dihindari mengingat BCA sempat mengalami 10 tahun tidak melakukan rekrutmen atau zero growth, yakni pada 2000-2010. Menurut Rudi, porsi karyawan Gen Y dan Gen Z yang bekerja di BCA saat ini sudah mencapai 60 persen. “Persoalannya, Gen X sebentar lagi akan pensiun, dan posisi penggantinya tidak ada,” katanya.
Maka, sudah waktunya Gen Z dipersiapkan menjadi ujung tombak perusahaan-perusahaan konvensional ini. Sebagai generasi digital yang mahir dan gandrung akan teknologi informasi dan berbagai aplikasi komputer, Gen Z akan mampu menopang organisasi dalam menggerakkan roda inovasi.