Akhir Tahun Banyak yang Cuti, Awas Bikin Kamu Jadi Burnout!

photo author
Christina A.S, Pejuang Kantoran
- Kamis, 29 Desember 2022 | 10:25 WIB
Akhir tahun, waktu di mana banyak orang ambil cuti dan pekerjaan menumpuk, tak ayal bikin pejuang kantoran lainnya 'agak sulit bernapas.' Kalau sudah begini, hati-hati burnout.  (Pexels.com/@Nataliya Vaitkevich)
Akhir tahun, waktu di mana banyak orang ambil cuti dan pekerjaan menumpuk, tak ayal bikin pejuang kantoran lainnya 'agak sulit bernapas.' Kalau sudah begini, hati-hati burnout. (Pexels.com/@Nataliya Vaitkevich)

 

PejuangKantoran.com - Akhir tahun, waktu di mana banyak orang ambil cuti dan pekerjaan menumpuk, tak ayal bikin pejuang kantoran lainnya 'agak sulit bernapas.' Kalau sudah begini, hati-hati Burnout. 

Pasti ada saatnya orang mengalami kelelahan, baik secara fisik maupun emosional, yang melibatkan berkurangnya rasa pencapaian. dan sebabkan Burnout. 

Berdasarkan laporan Deloitte terbaru, berjudul “Women @ Work 2022: A Global Outlook”, laporan tersebut mengungkapkan bahwa 53% wanita mengatakan bahwa tingkat stres mereka lebih tinggi daripada tahun lalu, dan hampir setengahnya merasa Burnout.

Baca Juga: Liburan Akhir Tahun di Qatar, Liburan Sambil Pulihkan Keseimbangan untuk Tahun yang Lebih Sehat dan Bahagia

Akhir-akhir ini, istilah tersebut semakin banyak digunakan, setiap orang dapat memiliki interpretasi yang berbeda tentang stres dan kelelahan yang mereka alami. Bahkan penggunaannya semakin samar dan kurang akurat, karena setiap orang memiliki mekanisme yang berbeda untuk mengatasi tekanan pekerjaan dan kehidupan.

Nelly Nurmalasari, Co-Founder dan Chief Executive Officer Pintarnya, platform digital terpadu untuk pekerja kerah biru di Indonesia, mengilustrasikan burnout dengan karet yang elastis. 

Meregangkan dan menarik karet merupakan suatu hal yang baik untuk dilakukan, tetapi hal yang perlu diperhatikan adalah untuk berhati-hati agar tidak merusak karetnya. Ketika karet tersebut rusak, maka karet tersebut kehilangan fungsinya. Penting untuk menangkap sinyal burnout dalam aktivitas kita sehari-hari, terutama tidak ada kesamaan gejala yang dimiliki setiap orang.

Berbagai posisi/peran yang berbeda dalam lingkungan kerja memiliki fungsi yang berbeda dalam mengelola burnout. Sebagai pemimpin yang pada umumnya memutuskan sebuah kebijakan, merupakan hal penting untuk mendorong keterbukaan dan mempertimbangkan kebutuhan karyawan. Beberapa ketentuan dapat dibuat untuk mendukung hal ini, seperti melalui pertemuan 1-on-1 secara reguler untuk memahami keadaan dan kondisi karyawan.

Baca Juga: Suka Main Game? Ini Game Terbaik Google Play Sepanjang 2022

“Sepertinya saya melihat beberapa founder perusahaan. disadari atau tidak, menjadi penyebab burnout. Misalnya sebagai founder, kami bermimpi besar. Kami ingin A, B, C, D, dan saya terus memberi tahu tim saya, merupakan tugas saya untuk bermimpi besar karena jika tidak, kita tidak akan pergi kemana-mana. Tapi membuatnya secara eksplisit untuk "tantang saya" jika (ide) ini bukan hal yang benar. Itu penting,” kata Nelly dalam pernyataannya. 

Tidak semua perusahaan dan atasan memberikan kesempatan bagi Anda untuk angkat bicara. Apalagi dengan iklim pekerjaan saat ini, di mana pekerjaan merupakan hal yang penting karena sebagian orang hidup dari gaji ke gaji, sehingga meninggalkan pekerjaan bukanlah pilihan. 

Hillary Buntara, Experimenter Xendit, menyebut bahwa lingkungan kerja saat ini telah membentuk pejuang kantoran baik laki-laki dan perempuan yang selalu berkata “ya”  dan takut untuk mengatakan tidak pada pekerjaan yang ditugaskan. Meskipun hal ini berarti berada dalam posisi yang telah memiliki banyak pekerjaan.  

Baca Juga: Karyawan Disarankan WFH Karena Badai 28 Desember 2022, Beneran Badai?

Halaman:
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel
di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Editor: Christina A.S

Tags

Artikel Terkait

Rekomendasi

Terkini

X