Faktor X yang Menyelamatkan Korban yang Terperangkap Puing-puing Bangunan di Lokasi Gempa Turki

photo author
Felicitas Harmandini, Pejuang Kantoran
- Sabtu, 18 Februari 2023 | 17:36 WIB
Ilustrasi: Faktor apa yang bisa menyelamatkan korban yang terperangkap puing-puing bangunan di lokasi gempa? (Freepik/Wavebreakmedia-micro)
Ilustrasi: Faktor apa yang bisa menyelamatkan korban yang terperangkap puing-puing bangunan di lokasi gempa? (Freepik/Wavebreakmedia-micro)

PejuangKantoran.com - Sudah 12 hari sejak gempa berkekuatan 7,8 melanda Turki selatan dan Suriah utara pada Senin, 6 Februari 2023.

Hingga saat ini, masih banyak orang yang dilaporkan hilang. Diperkirakan, masih banyak di antara mereka yang tertimbun puing-puing bangunan yang rusak berat. Faktor apa yang bisa menyelamatkan korban yang terperangkap puing-puing bangunan tersebut?

Menurut ahli bedah trauma Dr. Susan Briggs dari Massachusetts General Hospital, walaupun setelah 72 jam peluang bertahan hidup tidak besar tetapi selalu ada keajaiban yang terjadi.

Baca Juga: Masih Banyak Orang Hilang, Berapa Lama Korban Selamat Di Balik Reruntuhan Gempa Turki Bisa Bertahan?

Dr. Briggs, yang berpengalaman ke zona bencana selama 37 tahun untuk merawat orang yang selamat, dia kerap menyaksikan orang-orang yang ditarik hidup-hidup dari bangunan yang rata setelah waktu yang lama. Setiap korban punya cerita sendiri tentang hal-hal kecil yang menyelamatkan mereka.

Keberuntungan dan kecerdikan para korban, serta keterampilan dan kesiapsiagaan di pihak penyelamat, akan menjadi faktor yang bisa menyelamatkan korban yang terperangkap puing-puing bangunan.

Terkadang mereka berhasil menadah tetesan air hujan di sela-sela lubang reruntuhan yang mencegah mereka dehidrasi. Atau berhasil menarik selimut atau bahan apapun untuk menahan dari gigitan suhu musim dingin di Turki yang mengancam terjadinya hipotermia.

Usia dan kesehatan korban juga menjadi faktor yang bisa menyelamatkan korban yang terperangkap puing-puing bangunan.

“Orang berusia 20 tahun yang sehat akan mentolerir dehidrasi dan kondisi yang keras lebih lama daripada orang berusia 80 tahun yang tidak sehat,” kata ahli bedah trauma USC Dr. Kenji Inaba, yang mengepalai tim spesialis USC yang dikerahkan ke lokasi bencana di seluruh dunia.

Tetapi orang muda yang sehat yang mengalami dehidrasi setelah latihan yang berat mungkin tidak akan mampu bertahan hidup dibandingkan orang tua yang beristirahat setelah makan malam, kata Inaba.

Baca Juga: Anak-anak Terbaring di Reruntuhan di Sisi Jenazah Orangtua Mereka Selama Berhari-hari di Turki

Pada semua orang, ada yang disebut Inaba sebagai "faktor yang tidak berwujud nyata", yaitu keinginan yang kuat untuk bertahan hidup. Kita tidak mungkin mengukur atau memprediksi berapa lama hal itu bisa memperpanjang kelangsungan hidup korban bencana.

Walaupun kedokteran bencana adalah bidang khusus dalam profesi medis, itu bukan spesialisasi yang dipandu oleh banyak penelitian, tambah Dr. Thomas D. Kirsch, dokter gawat darurat yang mengajar di George Washington Medical School.

Dalam jam dan hari segera setelah bencana, upaya keluarga, tetangga, dan kru bencana setempat memengaruhi sebagian besar penyelamatan.

Pada saat tim SAR tiba di lokasi bencana internasional, katanya, biasanya bertahan hidup kebanyakan hanya suatu keberuntungan.

Halaman:
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel
di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizinĀ redaksi.

Editor: Felicitas Harmandini

Sumber: LA Times

Tags

Artikel Terkait

Rekomendasi

Terkini

X