Saat Nilai Tukar Dollar AS Naik, Hindari Lifestyle Inflation. Lakukan Hal-Hal Bijak Berikut Ini

photo author
Sigit Triwahyu, Pejuang Kantoran
- Rabu, 3 Juni 2026 | 16:10 WIB
Di saat nilai tukar rupiah terhadap dollar AS melemah, jangan lakukan lifestyle inflation. (Pejuangkantoran.com/Made with Google AI)
Di saat nilai tukar rupiah terhadap dollar AS melemah, jangan lakukan lifestyle inflation. (Pejuangkantoran.com/Made with Google AI)

 

Pejuangkantoran.com – Tanpa kita sadari, sebenarnya kita cukup sering melakukan gaya hidup yang seperti ini: Saat pendapatan naik, maka pengeluaran pun ikut naik. Misal, yang semula cukup minum kopi sasetan saat masih menjadi staf, ketika sudah jadi manajer kopinya menjadi manual brew di kedai kopi yang tentu saja harganya bisa berlipat-lipat.

Dengan kata lain, setiap kali pendapatan naik, standar hidup ikut naik dan pengeluaran baru yang awalnya dianggap "kemewahan" perlahan berubah menjadi "kebutuhan" (fidelity.com). Inilah yang dinamakan lifestyle creep atau lifestyle inflation.

Tanpa disadari, seseorang akan meningkatkan standar gaya hidupnya ketika pendapatannya naik, sehingga kenaikan gaji atau penghasilan tidak banyak meningkatkan Tabungan maupun investasi.

Jika kenaikan pengeluaran selalu mengikuti kenaikan pendapatan, maka kemampuan membangun kekayaan jangka panjang bisa terhambat.

Lifestyle inflation adalah salah satu yang kemungkinan besar terpengaruh sangat signifikan terhadap melemahnya nilia tukar rupiah terhadap dollar Amerika Serikat belakangan ini. Saat rupiah melemah, maka nyaris sebagian besar kebutuhan pokok akan meningkat.

Baca Juga: Pahami Penyebab Mata Uang Melemah, Meski Orang Desa Nggak Pakai Dollar buat Transaksi

Fluktuasi nilai tular rupiah sangat memengaruhi harga bahan bakar minyak, karena menurut Badan Pusat Statistik, seperti yang dikutip oleh akun IG @kontennews, impor BBM khususnya bensin di Indonesia pada tahun 2025 mencapai 60,18%.

Seperti kita ketahui, rantai pasok (supply chain) kebutuhan dasar kita itu sangat dipengaruhi oleh naik-turunnya harga bahan bakar minyak, meskipun besar kecilnya tergantung daerahnya. Ini karena sebagai negara kepulauan yang mengandalkan transportasi untuk menghubungkan pusat produksi, distribusi, dan konsumsi, sebagian besar pergerakan barang masih menggunakan truk (angkutan darat), kapal laut, dan kendaraan distribusi last-mile

Ketiga moda tersebut menggunakan BBM sebagai komponen biaya utama. Oleh karena itu, ketika rupiah melemah maka harga BBM naik dan memengaruhi harga barang-barang.

Apa yang Harus Dilakukan?

Nah, dalam kondisi seperti saat ini, ketika harga barang-barang naik, lifestyle inflation bukanlah pilihan gaya hidup yang bijaksana. Yang bisa kamu lakukan adalah:

  • Menunda pembelian barang impor yang tidak mendesak.
  • Mengutamakan produk lokal jika kualitas dan fungsinya memadai.
  • Membuat anggaran belanja yang lebih ketat.

Baca Juga: Dana Darurat Berapa yang Harus Dipersiapkan Biar Hidup Tenang dan Sejahtera?

Ketika pendapatanmu meningkat, inilah saatnya kamu untuk memperkuat dana darurat. Saat rupiah melemah, ketidakpastian ekonomi sering meningkat. Perusahaan yang bergantung pada impor dapat mengalami kenaikan biaya produksi dan perlambatan bisnis.

Oleh karena itu, pastikan dana darurat tersedia minimal 6-12 bulan pengeluaran rumah tangga. HIndari mengambil utang konsumtif baru yang tidak mendesak, misal menyicil mobil/motor baru atau menyicil ponsel terbaru. Kecuali memang barang-barang tersebut sudah tidak bisa digunakan atau tidak efisien lagi untuk digunakan.

Halaman:
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel
di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizinĀ redaksi.

Editor: Sigit Triwahyu

Sumber: Berbagai Sumber

Tags

Artikel Terkait

Rekomendasi

Terkini

X