PejuangKantoran.com - Di balik pesona Eropa sebagai destinasi impian digital nomad, terdapat realita mencolok: kesenjangan biaya hidup yang sangat besar antar kota.
Laporan terbaru PlayersTime mengungkap bahwa biaya hidup digital nomad di Eropa bisa berbeda hingga lebih dari $3.900 per bulan (sekitar puluhan juta rupiah), tergantung kota yang dipilih.
Kota Termahal di Eropa
Dublin menempati posisi sebagai kota termahal dengan biaya hidup mencapai $5.414 per bulan, di mana hampir $5.000 di antaranya hanya untuk akomodasi. Reykjavik dan Amsterdam menyusul dengan biaya masing-masing $5.354 dan $4.803 per bulan.
Tak hanya sewa yang tinggi, biaya lain juga ikut melonjak. Reykjavik, misalnya, mencatat biaya kebutuhan pokok tertinggi di Eropa, mencapai $444 per bulan, sementara London memiliki biaya transportasi publik tertinggi, sekitar $197 per bulan.
Baca Juga: Waspada, Jangan Sering Mengecek Email saat Sibuk. Itu Momen Paling Rawan Kena Phishing!
Sewa Jadi Faktor Penentu
Di kota-kota mahal, biaya sewa bisa mencapai 80–90% dari total pengeluaran bulanan, meninggalkan sedikit ruang untuk kebutuhan lain. Sebaliknya, di kota yang lebih terjangkau, porsi sewa hanya sekitar 70–75%, memberikan fleksibilitas finansial yang jauh lebih besar.
Bahkan dalam Satu Negara, Biaya Bisa Jauh Berbeda
Perbedaan biaya tidak hanya terjadi antar negara, tetapi juga dalam satu negara yang sama. Di Jerman, Hamburg tercatat lebih mahal sekitar $445 dibanding Frankfurt. Di Spanyol, Seville bahkan $704 lebih murah dari Barcelona.
Destinasi pulau juga cenderung lebih mahal. Heraklion di Yunani, misalnya, memiliki biaya hidup lebih dari $1.260 lebih tinggi dibanding Athena.
Baca Juga: Bahasa Indonesia Jadi Bahasa Pertama di Asia Tenggara yang Jadi Bahasa Resmi di Vatikan News
Realita Baru Digital Nomad
Fenomena ini mencerminkan perubahan besar dalam pola hidup dan kerja global. Kota-kota ikonik seperti Paris, Amsterdam, atau London memang tetap menarik, tetapi kini banyak digital nomad mulai beralih ke kota yang lebih terjangkau tanpa mengorbankan kualitas hidup.
Dengan meningkatnya fleksibilitas kerja dan munculnya visa khusus digital nomad, pilihan lokasi kini menjadi keputusan strategis—bukan hanya soal gaya hidup, tetapi juga efisiensi finansial.
Di Eropa, bekerja dari mana saja kini bukan lagi sekadar mimpi, tetapi juga soal memilih kota yang tepat.