PejuangKantoran.com - Kebiasaan mengecek email di sela-sela kerja ternyata punya risiko yang sering kita anggap sepele. Apalagi kalau lagi multitasking. Sebuah studi terbaru menunjukkan bahwa saat perhatian kita terbagi, bahkan orang yang paham soal keamanan digital pun bisa lengah.
Penelitian yang dipublikasikan di European Journal of Information Systems menemukan fakta menarik tersebut. Ketika seseorang diminta mengingat banyak hal sambil mengecek email, kemampuan mereka untuk membedakan email asli dan phishing jadi menurun.
Misalnya, peserta yang harus mengingat delapan angka sekaligus, jauh lebih sering salah menilai email dibanding yang hanya mengingat dua angka.
Baca Juga: Banyak Karyawan Hebat dan Setia yang Gagal Naik Jabatan. Yuk, Buat Dirimu Lebih Visible!
Artinya cukup jelas. Kebanyakan orang justru membuka email bukan saat kondisi santai dan fokus, tapi ketika sedang sibuk dengan pekerjaan lain. Di situ celahnya muncul.
“Deteksi phishing bukan hanya soal bereaksi terhadap tanda-tanda dari luar. Pengguna harus tetap mengingat tujuan untuk mendeteksi ancaman, mempertahankannya di tengah gangguan, dan mengingatnya saat mengambil keputusan,” ujar para peneliti.
Dengan kata lain, kita harus sadar penuh. Namun, kesadaran itu sulit kalau otak lagi penuh.
Multitasking sering diremehkan
Dalam studi ini, peneliti dari beberapa universitas seperti McMaster University dan Binghamton University mengawasi lebih dari 900 orang. Para responden ini diminta menyelesaikan tugas mengingat, lalu mengevaluasi email: mana yang aman dan mana yang berbahaya.
Hasilnya konsisten. Semakin berat beban pikiran seseorang, semakin turun kemampuan mereka dalam mengenali email mencurigakan. Bukan cuma soal benar atau salah, tapi juga tingkat kepercayaan diri mereka juga ikut menurun.
Baca Juga: Cara Lain Mengucapkan 'Hope All is Well' dalam Bahasa Inggris agar Email-mu Lebih Efisien?
Situasi ini sebenarnya sangat dekat dengan kehidupan sehari-hari. Kita sering banget berhenti sejenak dari pekerjaan utama cuma buat mengecek email. Tapi aktivitas kecil itu bukan berdiri sendiri. Kegiatan ini menyela fokus kita, sehingga penilaian jadi kurang tajam.
Kenapa training keamanan sering tidak efektif?
Temuan ini juga jadi kritik untuk metode pelatihan keamanan yang sering digunakan di kantor. Selama ini, banyak pelatihan dilakukan dalam kondisi ideal yang tenang, fokus, tanpa gangguan. Padahal di dunia nyata, kondisi seperti itu jarang terjadi.
Penelitian ini menggunakan teori psikologi bernama Memory-for-Goals. Otak kita diajak mengaktifkan kembali tujuan tertentu saat berpindah tugas. Dalam kasus ini, tujuan untuk waspada terhadap phishing. Masalahnya, kalau otak sudah penuh, tujuan itu gampang tergeser.
Artikel Terkait
Usai Lebaran, Saatnya Kembali ke Ritme: Cara Cerdas Lawan Post-Holiday Blues
Finlandia Kembali Jadi Negara Paling Bahagia di Dunia 2026, Ini Rahasia Sederhana di Baliknya
Tzu Chi Hospital Buka Lowongan Kerja 2026, Kesempatan Karier di Bidang Medis dan Nonmedis
Bukan Sekadar Drama Kantor: Hubungan Toksik dengan Atasan Bisa Berdampak pada Kesehatan dan Umur
Apa yang Terjadi Jika Kamu Makan Telur Setiap Hari?
Toko Ritel Cotton On Tepis Kabar akan Menutup Toko-toko Mereka di Asia, Cek Di Sini Faktanya!
Pemeran Lara Croft, Sophie Turner, Cedera saat Syuting Serial 'Tomb Raider' di Inggris