PejuangKantoran.com - Nilai tukar rupiah kembali mencatatkan tekanan signifikan hingga menyentuh level terendah sepanjang sejarah. Pada perdagangan awal April 2026, mata uang Garuda melemah hingga kisaran Rp17.100 per dolar Amerika Serikat, melampaui rekor sebelumnya yang terjadi saat krisis global maupun pandemi.
Merespons kondisi ini, Bank Indonesia (BI) menegaskan bahwa stabilitas nilai tukar tetap menjadi fokus utama di tengah ketidakpastian global yang masih tinggi.
Deputi Gubernur Senior BI, Destry Damayanti, menjelaskan bahwa tekanan terhadap rupiah tidak lepas dari dinamika eksternal, termasuk meningkatnya tensi geopolitik global yang memengaruhi pergerakan pasar keuangan.
Baca Juga: Tanda-tanda Kamu Mulai Keteteran saat Mengerjakan Project, Kapan Harus Memberi Tahu Atasan?
Faktor Global Jadi Pemicu Utama
Pelemahan rupiah saat ini dinilai lebih banyak dipengaruhi faktor eksternal dibandingkan kondisi domestik. Gejolak geopolitik, khususnya konflik di Timur Tengah, mendorong ketidakpastian di pasar global dan berdampak pada arus modal serta nilai tukar negara berkembang, termasuk Indonesia.
Selain itu, penguatan dolar AS dan sentimen global turut menekan mata uang di kawasan Asia, membuat rupiah bergerak sejalan dengan tren pelemahan regional.
Untuk meredam volatilitas, Bank Indonesia mengambil langkah aktif dengan melakukan intervensi di pasar valuta asing. Intervensi ini dilakukan baik di pasar spot maupun melalui instrumen derivatif seperti DNDF dan NDF.
Tak hanya itu, BI juga membuka opsi untuk membeli surat berharga negara di pasar sekunder serta meningkatkan daya tarik instrumen berbasis rupiah guna menarik aliran modal asing.
Langkah ini menunjukkan komitmen bank sentral dalam menjaga keseimbangan pasar serta memastikan pergerakan rupiah tetap terkendali.
Meski pelemahan rupiah berpotensi memberi tekanan pada ekonomi domestik, BI melihat adanya faktor penyeimbang.
Baca Juga: Nutrisi yang Sering Terlupakan Ini Ternyata Penting untuk Kesehatan Mental
Kenaikan harga komoditas global justru dapat memberikan dorongan bagi Indonesia sebagai negara eksportir. Kondisi ini dinilai mampu membantu mengurangi dampak negatif dari pelemahan nilai tukar.
Di tengah tekanan yang ada, BI menekankan pentingnya menjaga kepercayaan pasar melalui kebijakan yang konsisten dan terukur.
Dengan kombinasi intervensi pasar dan penguatan instrumen moneter, bank sentral berupaya memastikan bahwa pelemahan rupiah tidak berkembang menjadi gejolak yang lebih besar.