PejuangKantoran.com - Ketika membahas kesehatan mental, banyak orang langsung berpikir tentang omega-3, vitamin D, atau bahkan terapi. Namun, para ahli justru menyoroti satu nutrisi yang sering luput dari perhatian padahal perannya cukup krusial bagi fungsi otak.
Nutrisi tersebut adalah kolin (choline).
Kolin merupakan senyawa penting yang berperan dalam berbagai fungsi otak, termasuk memori, suasana hati, dan kemampuan fokus. Nutrisi ini juga dibutuhkan tubuh untuk memproduksi asetilkolin, yaitu zat kimia yang membantu otak mengirim sinyal ke seluruh tubuh.
Tanpa cukup kolin, komunikasi antar sel otak bisa terganggu yang pada akhirnya berdampak pada konsentrasi, emosi, hingga respons terhadap stres.
Baca Juga: Film 'Ayah, Ini Arahnya Kemana, Ya?' Soroti Fenomena Fatherless dari POV Anak yang Beranjak Dewasa
Kaitannya dengan Kecemasan dan Depresi
Sejumlah penelitian menunjukkan bahwa kadar kolin yang rendah berkaitan dengan peningkatan gejala kecemasan dan depresi.
Dalam analisis berbagai studi, ditemukan bahwa orang dengan gangguan kecemasan memiliki kadar kolin yang lebih rendah, khususnya di area otak yang mengatur emosi dan pengambilan keputusan.
Studi lain juga menunjukkan bahwa asupan kolin yang lebih tinggi berkaitan dengan risiko depresi yang lebih rendah meski hubungan ini masih terus diteliti lebih lanjut.
Menariknya, sekitar 90% orang tidak memenuhi kebutuhan harian kolin. Hal ini sering terjadi karena pola makan modern cenderung minim makanan utuh dan lebih banyak makanan olahan.
Kelompok yang menghindari produk hewani, seperti telur atau daging, juga berisiko lebih tinggi mengalami kekurangan nutrisi ini.
Baca Juga: Kandidat Tidak Muncul saat Diundang Wawancara Kerja Makin Sering Terjadi dalam Proses Rekrutmen
Dari Mana Mendapatkan Kolin?
Kabar baiknya, kolin cukup mudah ditemukan dalam berbagai makanan sehari-hari, seperti:
- Telur (salah satu sumber terbaik)
- Daging sapi dan ayam
- Ikan
- Susu
- Kacang-kacangan dan kedelai
- Sayuran seperti brokoli dan kembang kol
Kebutuhan harian orang dewasa berkisar 425–500 mg per hari.
Ilmu tentang hubungan antara makanan dan kesehatan mental kini berkembang pesat, dikenal sebagai nutritional psychiatry. Pendekatan ini menekankan bahwa apa yang kita makan tidak hanya memengaruhi tubuh, tetapi juga cara kita berpikir dan merasa.
Artikel Terkait
Sayuran Ini Disebut Terbaik untuk Panjang Umur, Sederhana tapi Penuh Manfaat
Tiga Bagian Tubuh yang Paling Sering Terlewat Saat Mandi
Usai Lebaran, Saatnya Kembali ke Ritme: Cara Cerdas Lawan Post-Holiday Blues
Apa yang Terjadi Jika Kamu Makan Telur Setiap Hari?
Lari di Pagi, Sore, atau Malam Hari, Manakah yang Lebih Baik Bagi Kamu?
55% Karyawan Sering Melewatkan Makan Siang, Kalaupun Makan Terkadang Sambil Bekerja
7 Teknik Pernapasan yang Wajib Kamu Praktikkan Agar Performa Larimu Meningkat!
Mandi Pagi atau Malam, Mana yang Lebih Baik? Ini Penjelasan Ahli
5 Alasan Mengapa Kita Semua Harus Mulai Membiasakan Minum Air Hangat seperti Orang Tiongkok
Apakah Kentang Baik untuk Kesehatan? Ini Fakta yang Perlu Kamu Tahu