Misal:
- Selalu sisihkan 20% dari income (berapa pun besarannya).
- Saat income kecil, otomatis nominal kecil, dan ini tidak masalah. Saat income naik maka angkanya otomatis naik.
- Terlalu agresif (semua di saham)
Ketika sadar bahwa telat dalam investasi untuk dana pensiun, ada kecenderungan freelancer ingin “mengejar ketertinggalan”, lalu masuk full saham/crypto/high risk.
Masalah utamanya, langkah seperti ini volatilitas tinggi dengan risiko loss besar saat butuh dana.
Misal:
- Investasi 100% saham.
- Pasar turun 30% (seperti saat krisis).
Jika butuh dana saat itu, maka kerugian jadi permanen (realized loss).
Kenapa terlalu agresif seperti ini berbahaya untuk freelancer? Sebab, pada prinsipnya freelancer tidak punya gaji tetap sementara bisa butuh dana kapan saja.
Jalan keluarnya, gunakan diversifikasi. Misal, dana untuk pensiun ini kamu pecah ke dalam 40% obligasi / SBN, 30% reksa dana saham, 20% pendapatan tetap, dan 10% likuid. Ini bisa mengurangi volatilitas tanpa mengorbankan growth.
Baca Juga: 8 Istilah Investasi yang Perlu Kamu Pahami sebelum Membeli Obligasi Ritel Seri ORI029
- Tidak punya proteksi (asuransi)
Freelancer sering mengabaikan asuransi kesehatan dan asuransi jiwa. Msalahnya, ketika terjadi kejadian besar, ini bisa menghancurkan seluruh tabungan.
Misal:
- Biaya rawat inap serius: Rp50–150 juta.
- Jika tanpa asuransi, dana harus ambil dari tabungan/investasi atau rencana pensiun mundur drastis
Jalan keluarnya, minimal kamu punya BPJS Kesehatan (wajib). Akan lebih aman lagi jika punya tambahan asuransi kesehatan (opsional) dan asuransi jiwa (jika ada tanggungan anak dan istri/suami).
Kesimpulannya, bagi freelancer, strategi pensiun bukan soal “instrumen terbaik”, tapi “sistem yang tahan terhadap ketidakpastian income”. Jadi, jangan sampai salah langkah lagi, ya! ***