4 Kesalahan Freelancer Dalam Menyiapkan Dana Pensiun

photo author
Sigit Triwahyu, Pejuang Kantoran
- Kamis, 23 April 2026 | 15:24 WIB
Sering terjadi kesalahan-kesalahan freelancer dalam menyiapkan dana pensiunnya. Cermati dengan teliti! (Pejuangkantoran.com/Made with Google AI)
Sering terjadi kesalahan-kesalahan freelancer dalam menyiapkan dana pensiunnya. Cermati dengan teliti! (Pejuangkantoran.com/Made with Google AI)

Pejuangkantoran.com – Pekerjaan sebagai freelancer saat ini sudah bukan hal yang kecil lagi. Di Indonesia sendiri, menurut BPS, di tahun 2025 jumlah freelancer angkanya mencapai 36,29 juta orang.

Ada banyak alasan mengapa pekerjaan ini mengalami pertumbuhan yang cepat, salah satunya adalah karena orang sudah merasa bahwa satu sumber pendapatan saja tidak cukup, jadi harus punya sampingan.

Namun ada sejumlah kesalahan freelancer dalam urusan finansial, yang mungkin tidak disadari secara penuh, yaitu seberapa jauh freelancer ini menyiapkan dana untuk pensiun. Seperti kita tahu, bagi freelancer semua urusan finansial dipikirkan sendiri termasuk urusan pensiun.

Padahal, pensiun itu adalah kepastian setiap pekerja dan jangan pernah berpikiran “Ah, masih lama gua pensiun. Orang masih muda ini.” Padahal, justru semakin awal kamu mempersiapkan dana pensiunmu, maka semakin aman finansialmu kelak.

Berikut ini sejumlah kesalahan freelancer dalam perencanaan dana pensiunnya.

Baca Juga: 3 Tips Keuangan untuk Mendukung Rencana Slow Living Kamu di Masa Pensiun

  1. Hanya menabung (tidak investasi)

Pada umumnya, freelancer cenderung menyimpan uang di tabungan/deposito, karena:

  • merasa aman,
  • mudah diakses,
  • takut risiko.

Namun, masalah utamanya adalah yang kamu dapatkan dari Tabungan (bunga) itu pasti akan terpengaruh inflasi, sehingga nilai uang akan tergerus. Sebagai contoh, inflasi Indonesia historisnya di angka 3–5%, sementara tabungan/deposito sering di bawah atau setara inflasi (setelah pajak).

Contoh: Tabungan Rp100 juta hari ini. Inflasi 5% selama 10 tahun. Nilai riilnya hanya setara Rp60 jutaan untuk daya beli sekarang.

Jalan keluarnya, minimal 30–50% dana kamu sisihkan untuk instrumen produktif (reksa dana, obligasi, saham). Gunakan “2 kantong”, yaitu tabungan untuk likuiditas dan investasi  untuk pertumbuhan.

Baca Juga: Mulailah Menyisihkan Gaji Untuk Dana Pensiun. Berikut 6 Faktor Pentingnya!

  1. Menunda karena income tidak stabil

Yang sering terjadi, freelancer berpikir tidak menyisihkan dana pensiun karena “Nanti kalau penghasilan sudah stabil/besar, baru mulai investasi.” Namun, waktu adalah variabel yang paling kuat dalam hal ini.

Ketika kamu kehilangan waktu (karena menunda), maka kamu akan kehilangan peluang compounding atau gampangnya kehilangan peluang adanya bunga berbunga, Kamu kehilangan peluang bahwa keuntunganmu diinvestasikan lagi.

Jalan keluarnya dalah dengan prinsip “percentage-based saving”, bukan nominal. Artinya, kamu menyisihkan sekian persen dari pendapatanmu untuk invetasi. Ini lebih masuk akal bagi freelancer yang memang jumlah pendapatannya tidak pasti.

Halaman:
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel
di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Editor: Sigit Triwahyu

Sumber: Berbagai Sumber

Tags

Artikel Terkait

Rekomendasi

Terkini

X