'Pengepungan di Bukit Duri' Ekspresi Keresahan Joko Anwar akan Gagalnya Sistem Pendidikan

photo author
Felicitas Harmandini, Pejuang Kantoran
- Kamis, 17 April 2025 | 16:25 WIB
Film Pengepungan di Bukit Duri merupakan bentuk keresahan Joko Anwar terhadap situasi pendidikan di Indonesia. (Instagram/@comeandseepictures)
Film Pengepungan di Bukit Duri merupakan bentuk keresahan Joko Anwar terhadap situasi pendidikan di Indonesia. (Instagram/@comeandseepictures)

PejuangKantoran.com - Peluncuran film Pengepungan di Bukit Duri, menandai dua momen penting dalam perjalanan karir sutradara Joko Anwar. Pertama, penanda dua dekade ia berkarya di industri film.

Kedua, penanda karyanya yang ke-11. Film yang akan diputar di seluruh bioskop pada 17 April 2025 ini akan menjadi era baru dirinya sebagai filmmaker. Baik itu dari segi penyutradaraan, produksi, hingga genre film yang akan ia garap ke depannya.

“Ini sebuah projek yang saya dan Tia Hasibuan sudah lama ingin buat. Saya sudah mengajukan skrip ini ke Tia sejak tahun 2008,” ujar Joko Anwar, saat konferensi pers gala premiere Pengepungan di Bukit Duri di Epicentrum XXl, Kuningan, Jakarta, Kamis (10/04/2025).

Baca Juga: Tupperware Indonesia Resmi Ditutup, Perusahaan bakal Disita Pemberi Pinjaman

"Kita berharap saat membaca skripnya, Indonesia pada saatnya nanti sudah menjadi negara yang damai, yang mau membicarakan hal sulit seperti trauma.

"Namun, setelah menunggu setahun, dua tahun sampai 17 tahun, ternyata, kegelisahan masih sama! Akhirnya, kita memutuskan untuk membuat film ini menjadi kenyataan," ujarnya.

Dikemas sebagai drama thriller, film berdurasi 1 jam 58 menit ini menyuguhkan banyak adegan kekerasan serta ketegangan tanpa putus, dari awal hingga akhir film. Penonton benar-benar tidak diberi kesempatan untuk mengambil napas.

Ada alasan tersendiri mengapa Bang Jokan, begitu panggilan akrabnya, mengemas film terbarunya dengan adegan-adegan kekerasan yang cukup eksplisit.

“(Film ini) Berangkat dari keresahan-keresahan yang ada di Indonesia seperti budaya yang selama ini kita anggap sebagai faktor-faktor yang membuat bangsa tidak bisa maju secara maksimal, tidak bisa maksimal progresif.

"Budaya-budaya itu seperti kekerasan dan korupsi. Semua ini ternyata mungkin terkait sama satu hal, yakni gagalnya sistem pendidikan di Indonesia,” tambahnya.

Baca Juga: Hasil Seleksi Administrasi RBB BUMN 2025 Sudah Diumumkan! Ini Link dan Cara Mengeceknya

Mengambil lokasi sekolah sebagai setting sentral, film yang memiliki judul bahasa Inggris The Siege at Thorn High ini dimulai dengan adegan kerusuhan massal seperti yang terjadi pada tahun 1998.

Sebagai suku minoritas (Tionghoa), Edwin kecil (Milo Taslim) harus menyaksikan rumahnya dijarah dan sang kakak diperkosa.

Tujuh belas tahun kemudian, mengambil setting waktu tahun 2027, Edwin (Morgan Oey) yang kini berprofesi sebagai guru memulai harinya sebagai guru di SMA Duri. Sekolah ini dikenal dengan murid-muridnya yang merupakan anak-anak bermasalah.

Selain mengajar, Edwin sebenarnya punya agenda lainnya. Ia mencari keponakannya sebagai amanah dari sang kakak sebelum menghembuskan napas terakhir.

Halaman:
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel
di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Editor: Felicitas Harmandini

Tags

Artikel Terkait

Rekomendasi

Terkini

X