Penggunaan Kamera Lensa Lebar yang Jadi Tantangan buat Kru dan Pemain Film Dopamin

photo author
Syanne Susita, Pejuang Kantoran
- Sabtu, 8 November 2025 | 17:44 WIB
Sutradara Teddy Soeria Atmadja dan sinematografer Vera Lestafa, ICS, bekerja sama untuk menciptakan aspek sinematik untuk film Dopamin. (Instagram @teddysoe)
Sutradara Teddy Soeria Atmadja dan sinematografer Vera Lestafa, ICS, bekerja sama untuk menciptakan aspek sinematik untuk film Dopamin. (Instagram @teddysoe)

PejuangKantoran.com - Dopamin dikenal sebagai hormon pemicu rasa senang atau bahagia. Mungkin karena itu, film Dopamin garapan sutradara Teddy Soeria Atmadja juga memberi pengalaman menonton yang menyenangkan.

Hal itu akan dirasakan penonton saat menyaksikan bagaimana sepasang suami istri muda, Alya (Shenina Cinnamon) dan Malik (Angga Yunanda), mencoba bertahan hidup demi kehidupan bahagia bersama.

Premis cerita ini sederhana. Bagaimana pasutri muda, yang mengalami kesulitan secara finansial, mendadak mendapat uang sekoper dari seorang asing yang tiba-tiba meninggal di rumah mereka.

Baca Juga: Lulusan Kesehatan Masyarakat Bisa Melamar Lowongan Product Specialist di Johnson & Johnson MedTech

Ketegangan demi ketegangan dialami Alya dan Malik, mulai dari upaya menghilangkan jejak, mutilasi, diburu kaki tangan bos mafia, diburu polisi hingga dikejar penagih utang.

Namun yang membuat film ini menyenangkan adalah bagaimana pasutri ini berjuang hingga lolos dari satu ketegangan ke ketegangan lain, hingga film usai.

Walau premis cerita sederhana, tidak mudah untuk merealisasikannya dalam adegan. Termasuk bagaimana genre film, yakni survival thriller, bisa tersampaikan dengan baik.

Diarahkan dengan tangan dingin Teddy Soeria Atmadja, ada satu aspek sinematik krusial yang menjadi kunci kenikmatan menonton film Dopamin. Aspek tersebut adalah pendekatan kamera yang secara spesifik yang dipilih oleh sinematografer Vera Lestafa, ICS.

Vera hanya menggunakan kamera lensa lebar (wide), yaitu 25mm dan 32mm.

“Sudah cukup lama sebenarnya Mas Teddy ingin menggunakan lensa ini, tapi di beberapa film sebelumnya, kita merasa belum cocok,” ujar Vera, saat gala premiere film Dopamin di Epicentrum XXI, Jakarta, Kamis (30/10/2025).

Baca Juga: Perusahaan yang Terlalu Mengandalkan AI akan Kesulitan Membangun Relasi yang Sehat Antar Karyawan

“Tapi di cerita ini, kita merasa ini pas sekali untuk mem-boosting dopamin dan juga adrenalin. Kita sepakat dari awal hanya akan menggunakan lensa ini, 25 dan 32mm.”

Menggunakan lensa lebar ini tentu ada tantangannya. Di skrip pengadeganan, karena lensa yang digunakan sangat lebar, tantangannya ada di lighting.

“Karena harus mencakup perspektif yang cukup lebar, saya harus berpikir lebih untuk menempatkan posisi lighting!” tambah Vera.

Menurut Teddy, penggunaan kamera seperti ini tidak hanya membuat timnya melakukan persiapan pengambilan adegan lebih detail, tetapi juga butuh proses adaptasi bagi para pemain saat berakting.

Halaman:
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel
di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Editor: Felicitas Harmandini

Tags

Artikel Terkait

Rekomendasi

Terkini

X