Garap Film Timur, Iko Uwais Beberkan Beda Budaya Kerja di Film Hollywood dan Indonesia

photo author
Syanne Susita, Pejuang Kantoran
- Selasa, 9 Desember 2025 | 12:23 WIB
Film Timur menjadi debut Iko Uwais sebagai sutradara. (IMDb)
Film Timur menjadi debut Iko Uwais sebagai sutradara. (IMDb)

PejuangKantoran.com - Aktor laga Iko Uwais meluncurkan karya debutnya sebagai sutradara di film Timur. Film ini juga proyek pertama dari rumah produksi yang ia bangun sendiri, Uwais Pictures.

Sebagai aktor yang sudah go international, Iko pasti sudah tahu seluk-beluk proses kerja di lingkungan perfilman luar negeri. Hal ini tentu saja berbeda ketika ia bekerja di Indonesia.

Itu sebabnya ketika ia mendirikan rumah produksi sendiri, aktor yang memulai karirnya sebagai atlet sepak bola dan pencak silat ini mencoba menyerap hal-hal yang ia anggap baik untuk bisa diaplikasikan pada setiap film keluaran PH-nya.

Baca Juga: Pendaftaran Paket Internet Rakyat Rp100.000 per Bulan Sudah Dimulai hingga Desember 2025

“Ya, memang saya ada pengalaman sedikit-sedikit kerja di luar negeri. Dan treatment-nya sih yang mau saya kembangkan. Saya mau mengeksplor apa yang saya pernah alami di film luar ataupun di Indonesia!” ujarnya, saat press screening film Timur di Epicentrum XXI, Jakarta, Kamis (04/12/2025).

Ada perbedaan yang cukup signifikan antara suasana kerja di luar dan di dalam negeri. Di luar negeri, sebelum syuting sering terjadi perdebatan antara aktor dan sutradara.

Sutradara yang mempunyai visi dan misi mengenai film sehingga hubungannya dengan pemain lebih mirip seperti dalang dan wayangnya.

“Menurut saya, kadang perdebatannya sangat kosong. Yang nggak perlu dan nggak penting diperdebatkan. Sutradara, dia yang mempunyai visi dan misinya.

"Jadi, aktor, sebelumnya maaf kalau ini dibilang kasar, hanya sebagai puppet. Sutradara yang jadi dalangnya!” ujar Iko dengan gaya ceplas ceplos.

Tapi, ia mengakui bahwa kerja sama antara sutradara dan pemain memang tidak mudah. Sebagai sutradara, ia bukan cuma bilang "action" and "cut".

Baca Juga: G-Dragon Resmi Jadi Materi Kuliah di USC, Jejak Pengaruh Sang Ikon K-Pop Dibedah di Dunia Akademik

Visi misi dari segi cerita harus bisa disampaikan dengan baik, begitu juga visi karakter yang nantinya dibangun dan diciptakan oleh masing-masing cast.

“Itu tidak mungkin sama karena pribadi masing-masing pemain juga tidak sama. Tapi, pembelajaran yang saya ambil dari produksi luar, tidak ada lagi perdebatan antara sutradara dan pemain pas saya ambil gambarnya di depan kamera!” tukasnya.

Di luar negeri, hierarki antara pemain, sutradara, dan kru lain pun masih terasa. Pemain-pemain utama biasanya dijuluki dengan nomer 1 dan berada di tahta tertinggi hierarki.

“Memang kalau di luar, yang lebih dominan itu yang nomer 1, baru ke sutradara langsung. Aktornya nomer 1. Hirarkinya lebih tinggi nomer 1 daripada sutradara,” terang aktor berdarah Betawi ini.

Halaman:
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel
di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Editor: Felicitas Harmandini

Tags

Artikel Terkait

Rekomendasi

Terkini

X