Pejuangkantoran.com – Bagi kamu di level manajerial, ketika rapat berjalan “adem-ayem”, tidak ada debat, tida ada adu argumentasi, tidak ada hujan usulan, maka kamu wajib waspada. Fenomena seperti ini kemungkinan besar ada silent rebellion di dalam tim kamu.
Silent rebellion adalah bentuk perlawanan diam-diam terhadap aturan, tekanan, atau otoritas, tanpa konfrontasi langsung atau ekspresi protes yang terang-terangan. Ini adalah perilaku menolak, tetapi dilakukan secara terselubung, pasif, atau tidak terlihat jelas.
Bentuknya bisa berbagai bentuk, seperti:
- bekerja minimal, sesuai jam dan kontrak,
- menunda pekerjaan meskipun tidak melewati tenggat waktu,
- tidak proaktif,
- “mengikuti perintah” tetapi tanpa inisiatif,
- tidak mau terlibat dalam rapat,
- tidak peduli dengan hasil akhir,
- memilih diam ketika terjadi masalah,
- enggan memberikan ide.
Semua perilaku di atas tentu saja akan menyebabkan penuruan produktivitas yang tidak terdeteksi, proyel bisa gagal, deadline bisa telat, menurunnya kreativitas dan ide, lingkungan kerja menjadi toxic, hingga turnover yang meningkat.
Baca Juga: Berikut 3 Cara Selamatkan Karir Kamu Tanpa Perlu Melakukan Quite Quitting
Penyebab silent rebellion di kantor, bisanya dipicu oleh:
1. Tidak merasa didengar
Ini faktor paling umum. Ketika karyawan memberi masukan tapi:
- tidak ditanggapi,
- diabaikan,
- atau dianggap mengganggu,
mereka berhenti berbicara dan mulai “melawan” secara diam-diam.
2. Atasan terlalu otoriter
Gaya kepemimpinan yang:
- suka memerintah,
- tidak terbuka pada feedback,
- memberi instruksi tanpa penjelasan,
- sering memarahi,
mendorong karyawan memilih “melawan” dengan diam, bukan berdebat.
Jika beban kerja tidak seimbang, atau ada favoritisme:
Artikel Terkait
Quite Quitting Cocok untuk Kaum Rebahan yang Tidak Berniat Menjadi Pemimpin di Perusahaan
Beban Kerja Meningkat, Pemimpin Tak Punya Waktu Menanggapi Feedback dari Karyawan. Ini Dampaknya!
Penilaian 360 Derajat Kerap Dianggap Tidak Adil oleh Karyawan, Konon Bisa Jadi Ajang Balas Dendam. Benarkah?
Burnout vs Boreout Sama-Sama Bisa Bikin Kamu Kelelahan, tapi Beda Akar Masalahnya
Post-holiday Turnover, Resign Setelah Liburan. Apa yang Bisa Dilakukan Karyawan dan Atasan?
3 Mitos Kepemimpinan yang Bisa Menyulitkan Manajer Baru dan Tidak Perlu Dipercaya Lagi