PejuangKantoran.com - Belakangan ini, Greenland ramai dibicarakan setelah Presiden Amerika Serikat Donald Trump menyatakan minatnya untuk “membeli” pulau terbesar di dunia tersebut. Alasannya terdengar serius: keamanan nasional.
“Kita membutuhkan Greenland demi kepentingan keamanan nasional, mengingat Denmark tidak akan sanggup memenuhinya secara mandiri,” ujar Trump kepada wartawan.
Sekadar info, Greenland merupakan bagian dari Amerika Utara, tapi sudah menjadi wilayah otonom Kerajaan Denmark selama kurang lebih 300 tahun.
Baca Juga: Grok Matikan Fitur Image Generator usai Dikecam soal Konten Seksual dan Kekerasan pada Perempuan
Wilayah ini sempat menjadi koloni yang terisolasi hingga pertengahan abad ke-20, posisi strategisnya menarik minat keamanan Amerika Serikat, terutama sejak pendudukan militer pada masa Perang Dunia II.
Melalui perjanjian pertahanan tahun 1951, AS memperoleh hak signifikan untuk membangun pangkalan militer di wilayah yang terletak di antara Samudra Arktik dan Atlantik tersebut.
Walaupun kini memiliki otonomi luas sejak referendum 1979, mayoritas warga Greenland menolak keras ide menjadi bagian dari Amerika Serikat.
Mereka cenderung menginginkan kemerdekaan penuh daripada diperlakukan sebagai komoditas yang diperjualbelikan, sebagaimana reaksi mereka terhadap wacana pembelian wilayah oleh AS pada tahun 2019 lalu.
Luas dan didominasi alam
Anyway, pernyataan Trump tersebut langsung memicu penolakan dari pemimpin Greenland dan Denmark. Namun, di balik hiruk-pikuk politik global, ada satu pertanyaan yang sering luput: seperti apa sebenarnya rasanya tinggal di Greenland?
Baca Juga: Lisa Blackpink bakal Jadi Artis K-pop Pertama yang Menjadi Presenter di Golden Globes 2026
Wilayah yang luasnya sekitar 2,2 juta kilometer persegi ini hanya dihuni sekitar 56.000 orang. Hanya 11 negara di dunia yang lebih besar dari Greenland, namun dari sisi populasi, wilayah ini justru menjadi salah satu yang paling jarang penduduknya.
Greenland terdiri atas ruang yang sangat luas, sunyi, dan didominasi alam. Sekitar 80% wilayah Greenland tertutup lapisan es tebal yang bisa mencapai kedalaman beberapa kilometer. Kondisi ini memaksa sebagian besar penduduk, yang mayoritas adalah masyarakat adat Inuit, untuk tinggal di sepanjang pesisir.
Kota-kota dan desa-desa kecil berjejer di tepi laut, dengan rumah-rumah kayu berwarna cerah. Warna-warni ini bukan sekadar estetika, tetapi juga cara menghadirkan kehangatan visual di tengah lanskap putih dan abu-abu.
Ibu kota Greenland, Nuuk, menjadi pusat kehidupan modern di pulau ini. Di sinilah kantor pemerintahan, universitas, dan sebagian besar layanan publik berada.
Artikel Terkait
Ikut Nonton Show 'Mens Rea', Ahok: 'Waduh Gila Deh, Pandji Pragiwaksono Nekad Banget!'
Pengembang Properti PT Hatten Bali Tbk Membuka Lowongan Kerja Brand Activation
OpenAI Luncurkan ChatGPT Health, Dorong Pengguna untuk Menghubungkan Rekam Medis Mereka
Michelle Ziudith Kapok Main Film Horor Kelar Main di Film Horor Pertamanya, 'Alas Roban'
Perlukah Chief Productivity Officer, Jabatan Baru yang Menggabungkan HR dan IT dalam Manajemen HR?
6 Cara Menghadapi Stres yang Salah, yang Kemungkinan Besar Bikin Kamu Sulit Naik Jabatan
Wajar Nggak Sih Kalau Jadi Minder dan Cemburu saat Melihat Pencapaian Orang Lain di LinkedIn?