Perlukah Chief Productivity Officer, Jabatan Baru yang Menggabungkan HR dan IT dalam Manajemen HR?

photo author
Felicitas Harmandini, Pejuang Kantoran
- Jumat, 9 Januari 2026 | 10:40 WIB
Ilustrasi: Chief Productivity Officer adalah jabatan baru dalam manajemen HR yang menggabungkan HR dan IT. (Freepik/Pressfoto)
Ilustrasi: Chief Productivity Officer adalah jabatan baru dalam manajemen HR yang menggabungkan HR dan IT. (Freepik/Pressfoto)

PejuangKantoran.com - Manajemen HR ternyata terus berkembang. Mulai 2026, posisi direktur HR tradisional berpotensi tergeser atau setidaknya berbagi peran dengan jabatan baru di level eksekutif, yaitu Chief Productivity Officer (CPO).

Apakah ini sekadar tren, atau memang dibutuhkan dalam perusahaan yang modern?

Berbeda dengan Chief People Officer yang sudah lebih dulu ada di manajemen HR, CPO dirancang sebagai penghubung antara manusia dan teknologi. Tugasnya bukan sekadar menggabungkan HR dan IT, tetapi merancang keduanya agar selaras dalam mendorong output bisnis.

Baca Juga: Michelle Ziudith Kapok Main Film Horor Kelar Main di Film Horor Pertamanya, 'Alas Roban'

Beberapa organisasi besar seperti Moderna dan pemerintah Inggris sudah mulai mengadopsinya. Namun, para ahli sepakat bahwa efektivitas peran ini sangat bergantung pada pemahaman perusahaan terhadap masalah yang ingin diselesaikan.

Cliff Jurkiewicz, VP of Global Strategy and Executive Evangelist di perusahaan teknologi HR, Phenom, melihat kemunculan CPO sebagai bentuk koreksi atas kesalahan manajemen selama ini.

Banyak perusahaan salah kaprah, menjadikan karyawan sebagai "benteng terakhir" untuk membereskan proses yang rusak, padahal seharusnya teknologi yang membantu manusia.

"Karyawan akhirnya cuma jadi tukang tambal alur kerja yang berantakan. Itulah yang membuat pekerjaan terasa sangat menguras energi dan kehilangan maknanya," ujar Jurkiewicz.

Ia menegaskan bahwa CPO justru mengembalikan peran manusia sebagai kendali utama dalam perusahaan. Peran ini membangun tanggung jawab bersama atas produktivitas di antara tim HR, IT, dan unit bisnis, sehingga pengembangan talenta, perancangan alur kerja, hingga otomatisasi teknologi dapat berjalan selaras.

“Manusia dan teknologi sekarang ini beroperasi sebagai satu kesatuan sistem. Tanpa ada pihak yang mengawal sistem tersebut, organisasi jadi mudah terjebak dalam inefisiensi,” tambahnya.

Baca Juga: OpenAI Luncurkan ChatGPT Health, Dorong Pengguna untuk Menghubungkan Rekam Medis Mereka

Mark Onisk, Chief Content Officer di Skillsoft, setuju kalau integrasi yang lebih erat itu perlu. Tapi, dia mengingatkan bahwa penggabungan HR dan IT hanya akan efektif kalau sejalan dengan strategi dan tingkat kematangan digital perusahaan.

“Ketika kedua fungsi ini berkolaborasi, perusahaan bisa lebih maksimal memanfaatkan data skill, analisis berbasis AI, dan platform yang terintegrasi untuk menutup gap kompetensi serta meningkatkan produktivitas,” jelasnya.

Namun, tanpa pemahaman teknologi yang mumpuni, tata kelola (governance) yang baik, serta tanggung jawab yang jelas, penggabungan ini malah bakal bikin makin bingung ketimbang memberikan kejelasan. 

Poin utamanya bukan soal menggabungkan semua fungsi ke satu jabatan eksekutif saja, tapi bagaimana kita menyelaraskan strategi HR dengan dukungan teknologi.

Halaman:
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel
di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Editor: Felicitas Harmandini

Sumber: Worklife

Tags

Artikel Terkait

Rekomendasi

Terkini

X