PejuangKantoran.com - Sukses dengan film Jumbo di Lebaran tahun lalu, rumah produksi Visinema Studios kembali menghadirkan film Lebaran dengan tema keluarga tahun ini.
Masih diinisiasi oleh filmmaker yang juga menggarap Jumbo, yaitu Anggia Kharisma (produser), Novia Puspa Sari (produser), dan Ryan Adriandhy (sutradara dan penulis skenario), film keluarga yang akan dirilis adalah film Na Willa.
Film ini merupakan produk alih wahana dari novel berjudul sama karya Reda Gaudiamo.
Baca Juga: Sad Banget, 1 dari 4 Manajer Ternyata Lebih Suka kalau Tidak Usah Memimpin Orang Lain
“(Launching film ini) Adalah ungkapan kasih sayang kita untuk mengajak teman-teman bisa memeluk dunia Na Willa. Kita ingin sekali setia pada rasa seperti ketika kita membaca buku cerita Na Willa karya Ibu Reda Gaudiamo.
"Buku yang punya banyak sekali pesan sederhana yang menurutku harus disambut bahagia. Dunia Na Willa, dunia serunya menjadi anak-anak!” ucap Anggia Kharisma, saat konferensi pers di Plaza Senayan XXI, Jakarta, Kamis (12/02/2026) lalu.
Dalam Na Willa, penonton akan menikmati masa Indonesia, tepatnya di Surabaya, pada tahun 60-an. Latar belakang ini bukan untuk membahas sejarah Surabaya di tahun itu, melainkan bagaimana dunia dari kacamata anak umur 6 tahun yang tumbuh di kota tersebut.
Untuk menghidupkan dunia penuh keajaiban dan imajinasi itu, para filmmaker menyuguhkan film dengan format live-action dan animasi, dengan sentuhan musikal yang manis dan hangat.
“Bagaimana kita akan membangun set dunia Na Willa ini sepenuhnya dari imajinasi dan dunia penuh magis dari kaca mata anak 6 tahun. Benda-benda seperti radio atau botol soda jeruk yang nye-kruss itu jadi sesuatu yang sangat magis!” tambah Novia Puspa Sari.
Dipercaya menggarap Na Willa, Ryan Adriandhy mengaku bahwa ini merupakan proyek syuting live-action pertamanya. Walau mediumnya berbeda, sutradara yang mengawali karir sebagai komika itu punya prinsip yang sama saat menggarap film dengan genre animasi dan live-action.
Baca Juga: Mantan Istri Pangeran Andrew Berniat Menulis Buku yang Mengungkap Kebobrokan Sang Mantan1
“Jujur menjadi sutradara debut live-action ini, boleh dibilang evolusi dari semua yang aku kerjakan di Jumbo. Cara membuatnya beda tapi dalam bercerita aku harus mampu menangkap ketulusan dan imajinasi anak-anak ini!” ujar sutradara yang menyelesaikan studi magisternya di Institut Teknologi Rochester, New York, ini.
Sedangkan, tantangan dalam menggarap film live-action yang menggabungkan animasi dan musikal membuatnya bersinggungan dengan banyak departemen dan orang. Untuk itu, Ryan harus banyak membuka diri terhadap masukan ataupun saran dari pihak luar.
“Aku harus lebih pasrah dalam membuat film live-action. Kalau menggarap animasi, aku buat frame per frame di komputer, bisa aku atur semua.
"Kalau di live-action, aku harus berkolaborasi dengan mereka yang ada di dalam ruangan asli, di lapangan asli, sampai di tempat main kelereng asli. Aku harus bersinergi secara harmoni dengan apapun yang terjadi di lokasi!” pungkasnya.
Artikel Terkait
Mantan Istri Pangeran Andrew Berniat Menulis Buku yang Mengungkap Kebobrokan Sang Mantan1
Jangan Sepelekan Bangun Tidur Mendadak. Berikut Tips Agar Bisa Bangun Tidur yang Aman untuk Sahur
Banyak Distraksi di Kantor yang Membuatmu Tidak Fokus? Solusinya, Lakukan Timeboxing!
Mengapa Penentuan Hilal (Bulan Baru) Menggunakan Hisab dan Rukyat?
8 Manfaat Kurma yang Membuatnya Tak Hanya Cocok Untuk Sahur dan Berbuka Puasa Saja
Kopi atau Teh: Mana yang Lebih Baik untuk Memulai Hari?
Apa sih Manfaat Makan Cokelat Hitam? Ini Jawaban buat Kamu yang Suka Ngopi di Kantor!
Mengenal 4 Penanggalan: China, Jawa, Hijriah, dan Masehi dari Berbagai Aspek