senggang

Sempat Ditolak untuk Diproduksi, Film Sah! Katanya Akhirnya Malah Dianggap sebagai Berlian

Minggu, 20 April 2025 | 08:00 WIB
Produser Raam Punjabi sempat tidak yakin bahwa film Sah! Katanya layak diproduksi. (IMDb)

PejuangKantoran.com - Kali pertama disodori naskah Sah! Katanya oleh timproduser Raam Punjabi mengaku tidak tertarik sama sekali. 

Menurutnya, premis pernikahan di depan jenazah tidak menarik. Bahkan, persuasi dari penulis skenario, Sidharta Tata, yang meminta kesempatan untuk memperbaiki naskah, tidak membuatnya berubah pikiran.  

“Saya tetap tidak yakin dengan film ini. Tapi, lama-kelamaan saya pikir, perkawinan di depan jenazah ayah  kandung, saya kira film ini patut diproduksi.

Baca Juga: Ini Alasan di Balik Pertanyaan 'Apa yang Memotivasi Kamu?' saat Wawancara Kerja

"Eh, tim malah menertawakan saya. ‘Pak Raam, filmnya sudah setengah syuting. Nanti tinggal melihat hasilnya saja!" ujar Raam Punjabi, saat konferensi pers Sah! Katanya di Epicentrum XXI, Jakarta, Rabu (16/4/2025).

Ketika mem-preview film usai pengerjaan, produser sekaligus pemilik rumah produksi Multivision Plus itu dibuat penasaran oleh Tata (sapaan karib Sidharta) karena film tidak di-preview secara keseluruhan.

Ia hanya menonton 70 menit dari durasi total filmnya yang sepanjang 2 jam 4 menit.

“Strategi Pak Tata sangat saya kagumi karena hari pertama film diperlihatkan tidak full! Dia cicil. Itu membuat saya lebih penasaran. Dalam 70 menit itu, saya mungkin ketawa sampai 50 kali.

"Saya angkat jempol sama Tata. Walau saya tidak tahu apakah selera penonton sama seperti kita, yang penting kita pegang berlian di tangan.

"Ketika film sudah jadi, itu tingkat pertama kebanggaan saya!” tambah produser yang sudah berkecimpung di industri film Indonesia selama 54 tahun ini.

Baca Juga: 8 Kunci Menjaga Hubungan Bisnis dengan Klien Tetap Erat dan Berkembang dalam Jangka Panjang

Cerita Sah! Katanya sendiri mengangkat tradisi Nikah Mayit yang memang terjadi di masyarakat. Ketimbang mengolah ide cerita yang datang dari sutradara Loeloe Hendra menjadi skenario yang sedih memilukan, Tata mengemasnya sebagai tragic comedy

“Sebenarnya, ada kesadaran di awal jika menggarap cerita ini bisa menjadi sangat drama, mengharu-biru, dan masuk ke perasaan yang sangat tragis.

"Namun, kita coba menyikapi bagaimana jika tragedi bisa disikapi dengan sesuatu yang fun. Bukan menyikapi masalah sebagai sebuah masalah.

"Semoga ini menjadi perspektif yang berbeda dan itu yang coba kita tawarkan kepada penonton,” terang Loeloe Hendra, yang sebelumnya banyak menggarap art house film ini. 

Halaman:

Tags

Terkini