PejuangKantoran.com - Kali pertama disodori naskah Sah! Katanya oleh tim, produser Raam Punjabi mengaku tidak tertarik sama sekali.
Menurutnya, premis pernikahan di depan jenazah tidak menarik. Bahkan, persuasi dari penulis skenario, Sidharta Tata, yang meminta kesempatan untuk memperbaiki naskah, tidak membuatnya berubah pikiran.
“Saya tetap tidak yakin dengan film ini. Tapi, lama-kelamaan saya pikir, perkawinan di depan jenazah ayah kandung, saya kira film ini patut diproduksi.
Baca Juga: Ini Alasan di Balik Pertanyaan 'Apa yang Memotivasi Kamu?' saat Wawancara Kerja
"Eh, tim malah menertawakan saya. ‘Pak Raam, filmnya sudah setengah syuting. Nanti tinggal melihat hasilnya saja!" ujar Raam Punjabi, saat konferensi pers Sah! Katanya di Epicentrum XXI, Jakarta, Rabu (16/4/2025).
Ketika mem-preview film usai pengerjaan, produser sekaligus pemilik rumah produksi Multivision Plus itu dibuat penasaran oleh Tata (sapaan karib Sidharta) karena film tidak di-preview secara keseluruhan.
Ia hanya menonton 70 menit dari durasi total filmnya yang sepanjang 2 jam 4 menit.
“Strategi Pak Tata sangat saya kagumi karena hari pertama film diperlihatkan tidak full! Dia cicil. Itu membuat saya lebih penasaran. Dalam 70 menit itu, saya mungkin ketawa sampai 50 kali.
"Saya angkat jempol sama Tata. Walau saya tidak tahu apakah selera penonton sama seperti kita, yang penting kita pegang berlian di tangan.
"Ketika film sudah jadi, itu tingkat pertama kebanggaan saya!” tambah produser yang sudah berkecimpung di industri film Indonesia selama 54 tahun ini.
Baca Juga: 8 Kunci Menjaga Hubungan Bisnis dengan Klien Tetap Erat dan Berkembang dalam Jangka Panjang
Cerita Sah! Katanya sendiri mengangkat tradisi Nikah Mayit yang memang terjadi di masyarakat. Ketimbang mengolah ide cerita yang datang dari sutradara Loeloe Hendra menjadi skenario yang sedih memilukan, Tata mengemasnya sebagai tragic comedy.
“Sebenarnya, ada kesadaran di awal jika menggarap cerita ini bisa menjadi sangat drama, mengharu-biru, dan masuk ke perasaan yang sangat tragis.
"Namun, kita coba menyikapi bagaimana jika tragedi bisa disikapi dengan sesuatu yang fun. Bukan menyikapi masalah sebagai sebuah masalah.
"Semoga ini menjadi perspektif yang berbeda dan itu yang coba kita tawarkan kepada penonton,” terang Loeloe Hendra, yang sebelumnya banyak menggarap art house film ini.
Artikel Terkait
Pemprov DKI Jakarta Gratiskan Ongkos Transjakarta, MRT, dan LRT untuk 15 Kategori Masyarakat
Terbangun Tengah Malam Ternyata Bisa Bikin Pikiran Lebih Kreatif, Mengapa Bisa Begitu?
Beraaat... Bermain di Pengepungan di Bukit Duri, Omara Esteghlal Ambil Referensi dari Literatur Filsafat
Pengalaman Kerja Sukarela atau Volunteer Perlu Ditulis di CV, Bisa Bantu Tonjolkan Keterampilan yang Dimiliki
Rasa Cemburu di Tempat Kerja Wajar, Lakukan 6 Langkah Ini untuk Mengubahnya Jadi Kekuatan Diri
Belajar dan Praktek Jadi Guru Bahasa Indonesia di Amerika, Yuk! Ikuti Program Fulbright Foreign Language Teaching Assistant (FLTA) 2025
Siapa yang Mau Pindah ke Kanada? Ikuti Program RCIP Ini dan Dapatkan Izin Tinggal Permanen di Sana!
Gambarkan Diri Kamu Dengan 3 Langkah Berikut Ini Saat Ditanya Tentang Motivasi Saat Wawancara Kerja