PejuangKantoran.com - Walaupun harus berperan sebagai Arok, teroris di film 13 Bom di Jakarta, Rio Dewanto mengaku tidak punya alasan untuk menolak tawaran tersebut.
Secara pribadi, jelas ia menolak segala bentuk terorisme. Namun, sebagai aktor, tawaran main di film 13 Bom di Jakarta jelas menjadi satu tantangan sendiri bagi Rio Dewanto.
Apalagi, tawaran bergabung di film 13 Bom di Jakarta datang dari sutradara Angga Dwimas Sasongko, yang sudah lama punya hubungan pertemanan yang erat dengan Rio Dewanto.
Baca Juga: Ahli BRIN: Ancaman Muncul Ketika Politik Dinasti Membajak Demokrasi
“Kalau saya pribadi, sebagai Rio Dewanto, sama sekali tidak mendukung apapun yang berkaitan dengan terorisme,” katanya, saat konferensi pers 13 Bom di Jakarta di Plaza Senayan, Jakarta, Kamis (26/10/2023).
“Tetapi ketika diberikan tantangan bermain sebagai teroris, ini satu pencapaian yang belum pernah dicoba dalam dunia seni peran. Tidak pernah terpikirkan sebelumnya akan ada tawaran seperti ini.”
Apalagi, tambah Rio, yang menawarkan peran tersebut adalah Angga Dwimas Sasongko. Rio mengaku sudah bekerja sama dengan sutradara berusia 38 tahun itu dalam beberapa proyek. Menurut Rio, tidak ada karya Angga yang mengecewakan.
“Dia dan Visinema Pictures selalu berkomitmen menghasilkan film yang selalu beda dari kebanyakan film yang beredar di bioskop. Jadi tidak ada alasan untuk bilang ‘tidak’, gitu. Nggak dibayar juga nggak apa-apa!” celetuknya dengan santai.
Meskipun begitu, berakting sebagai teroris bukan hal yang mudah. Secara fisik, Rio diminta untuk memanjangkan kumis dan jenggotnya hingga brewok.
Di luar fisik, tantangan yang cukup menyulitkan Rio adalah saat berdialog, di mana ada nada dan gaya bicara khusus yang harus dilatih agar terlihat masuk akal.
Ternyata, Rio merasa tidak nyaman dengan brewoknya.
Baca Juga: Sindrom Nasi Goreng Bikin Seorang Pemuda Tewas Usai Makan Makanan yang Dipanaskan
“Yang pertama, saat syuting jenggot saya lumayan panjang. Wah, baunya kayak kambing! Kedua, karena (tuntutan adegannya) bukan senjata dan berantem saja.
“Secara dialog pun tidak mudah untuk men-deliver-nya dan memanipulasi penonton ketika mereka menonton. Semoga (believeable) aja sih!” seru Rio, yang antara lain kerja bareng Angga di film-film Filosofi Kopi.
Untuk pendalaman karakter, Rio melakukan riset sendiri sesuai arahan Angga Dwimas Sasongko, di mana karakter Arok terinspirasi dari Subcomandante Marcos. Marcos adalah Ketua Zapatista di Meksiko, gerakan kiri yang menentang pemerintah karena korupsi.
Artikel Terkait
Pertama Main di Film Horor, Fadi Alaydrus Senang Kesampaian Bisa Main bareng Yasamin Jasem
Perombakan Direksi dan Komisaris MRT Jakarta, Jujun Endah Jadi Komisaris PT MRT Jakarta
Ketika Sepatu Kaesang Pangarep Bikin Salah Fokus alias Salfok
Dijuluki Megatron, Atlet Voli Indonesia Megawati Hangestri Kini Jadi Idola Baru di Korea Selatan
Chicco Kurniawan Bangga Sekaligus Cemas, Film Seperti 13 Bom Di Jakarta Bisa Dibuat di Indonesia
Peran Jadi Teroris di 13 Bom di Jakarta, Rio Dewanto Kabur dari Bootcamp Militer
Begini Cara Prilly Latuconsina Meneteskan Air Mata di Mata Sebelah Kiri Saja di Film Budi Pekerti