Pejuangkantoran.com – Pengguna komputer super cepat, terutama gamers, sudah semestinya berteima kasih kepada tiga orang ini, yaitu Jensen Huang, Chirs Malachowsky, dan Curtis Priem. Ketiganya adalah pendiri NVIDIA.
Pada tahun 1993, ketiga orang ini sudah punya visi bahwa ke depan dunia komputasi akan makin cepat dan berbasis grafis. Dari situlah hingga sekarang NVIDIA dikenal sebagai produsen unit Graphics Processing Unit (GPU.
GPU NVIDIA ini kemudian sangat erat dengan game komputer. Dan belakangan, NVIDIA kian meraih kesuksesan usai membuat chip AI atau kecerdasan buatan yang banyak digunakan oleh pengguna komputer.
Salah satu dari pendiri NVIDIA, Jensen Huang, pada Kamis (14/112024) lalu mengunjungi Indonesia dalam rangka menghadiri acara Indonesia AI Day 2024 yang digelar oleh Indosat Ooredoo Hutchison (IOH).
Sejak NVIDIA didirikan hingga sekarang, posisi Jensen Huang sebagai CEO belum tergantikan. Ini mengindikasikan bahwa perannya sangat sentral di perusahaan Amerika yang berpusat di Santa Clara ini.
Baca Juga: Penipuan Makin Canggih, Waspada Penelepon Bersuara AI Ingin Memulihkan Akun Gmail Kamu
Pindah ke Amerika Serikat sejak kecil
Terlahir di Taiwan pada 17 Februari 1963, pria ini lahir dengan nama asli Jen-Hsun Huang. Usia 9 tahun, Huang merantau ke Tacoma, Amerika Serikat dengan dititipkan ke pamannya yang bermukim di Ameriak Serikat.
Baru beberapa tahun kemudian, orang tuanya menyusul Huang ke Amerika. Seperti pada umumnya migran yang yang datang ke Amerika, mereka mau mencari penghidupan yang lebih baik, an American dream.
"Ayahku memiliki keinginan besar untuk membesarkan kami di negara yang luar biasa ini (AS)," ujar Jensen pada 29 Februari 2024.
Oleh karena itu, Jensen Huang pun disekolahkan di sekolah dasar yang menurut mereka bergengsi di AS, yaitu Oneida Baptist Institute.
Meskipun sempat jadi korban perundungan dan diancam dengan pisau, namun Jensen memutuskan untuk bertahan di sekolah itu. Peristiwa itu diakuinya sebagai hal yang berkesan, karena dirinya berani mengungkap keresahannya saat pidato kelulusan sekolah.
Hidup di Amerika Serikat jelas tidak mudah, karena itu harus kerja keras. Jensen Huang paham benar akan hal ini. Pengalamannya sebagai tukang cuci piring di sebuah restoran cepat saji bernama Denny's saat berusia 15 tahun, diakuinya mengajarinya untuk tetap rendah hati dan terus bekerja keras.
Baca Juga: Pembaruan Copilot Bikin Chatbot Microsoft AI Itu Lebih Menjadi Teman Digital dan Bisa Ngobrol
Artikel Terkait
Pangeran dari Masa Lalu, Tampilan Artificial Intelligence Paling Dicari Perempuan Generasi Z Masa Kini
Ingin Berkarir di Industri Robotika? Kenali Perbedaan Robotika dan Artificial Intelligence!
6 Pertanyaan yang Paling Sering Diajukan Soal Visa Workcation Alias Digital Nomad di Korea
Sisi Lain Seorang Digital Nomad: Kesepian dan Sedih dengan Gaya Hidupnya yang Terus Berpindah
Digital Detox At Work, Diet Tidak Menggunakan Gadget Ternyata Perlu Dilakukan Di Kantor. Begini Caranya!
Mesin Pencari Berbasis AI OpenAI Resmi Diluncurkan di ChatGPT