CEO berusia 44 tahun ini bukan staf pertama yang menyadari potensi konflik antara mengasuh anak dan pekerjaan yang menuntut untuk segera ditindaklanjuti, terutama saat panggilan telepon, email, dan notifikasi dikirim langsung ke smartphone atau smartwatch-nya.
Masalah ini didefinisikan sebagai "teknoferensi", yaitu saat seseorang teralihkan secara digital dari orang-orang di depannya.
Baca Juga: PPN 12% Resmi Diberlakukan pada 1 Januari 2025, Belum Gajian Sudah Mikirin Pajak Naik
Lebih dari 20 tahun yang lalu, Stewart D. Friedman, psikolog organisasi di Wharton School, Universitas Pennsylvania, melakukan penelitian terhadap 900 profesional bisnis mengenai hubungan mereka dengan anak-anak mereka.
Hal itu terjadi sebelum era media sosial, iPhone, smartwatch, dan WiFi. Jadi, pada tahun 2018, profesor emeritus tersebut meninjau kembali penelitiannya agar menjadi lebih relevan.
Friedman menemukan bahwa faktor-faktor seperti keleluasaan orang tua dalam pekerjaan, kemampuan mengonrol beban kerja, dan campur tangan psikologis dalam kehidupan keluarga, semuanya berkorelasi dengan perilaku anak-anak.
"Gangguan kognitif seorang ayah terhadap pekerjaan dalam keluarga dan waktu bersantai—yaitu, kehadiran seorang ayah secara psikologis, yang menghilang saat ia menggunakan perangkat digitalnya—dikaitkan dengan anak-anak yang memiliki masalah emosional dan perilaku," tulis Friedman.
Temuan tersebut lebih mendalam ketika menyangkut ibu. Penelitian yang sama menemukan bahwa ibu bekerja yang memiliki wewenang dan keleluasaan dalam pekerjaan memiliki anak-anak yang lebih sehat secara mental.
Baca Juga: Bali: Pulau Terindah untuk Liburan Matahari Musim Dingin Wisatawan Eropa
Namun, apa yang dilakukan para ibu di waktu luangnya di rumah juga berdampak pada anak-anaknya.
"Ibu-ibu yang menghabiskan waktu untuk diri mereka sendiri—untuk bersantai dan merawat diri sendiri—dan tidak terlalu banyak melakukan pekerjaan rumah tangga, dikaitkan dengan hasil yang positif bagi anak-anak.
"Ini bukan hanya masalah ibu-ibu yang berada di rumah versus bekerja, tetapi apa yang mereka lakukan saat berada di rumah dengan waktu luang mereka," pungkas Friedman.
Artikel Terkait
Siap-siap Beasiswa LPDP Batch 2 2025 Segera Dibuka
4 Modus Penipuan Akun Google yang Harus Diwaspadai, dari Deepfake hingga Link Hovering
10 Kota di Jepang dengan Penduduk Asing Paling Bahagia, Tokyo Ada di Urutan Teratas
6 Tren Dunia Kerja Tahun 2025, dari Revolusi AI hingga Transparansi soal Gaji
6 Aplikasi Cuaca yang Direkomendasikan Agar Rencana Kamu ke Depan Tidak Berantakan
Jangan Kudet, Yuk Ikutan 5 Kursus Online Gratis Ini untuk Belajar AI sesuai dengan Bidang Pekerjaan!
Pekerjaan Terunik di Hotel: dari Direktur Suasana Hati sampai Pemandu Macan! Berani Coba?