sosok

Pelestari Hutan Leuser Farwiza Farhan Tak Lelah Menyuarakan Kerusakan Alam dan Dampak Deforestasi

Jumat, 5 Desember 2025 | 15:19 WIB
Farwiza Farhan, pelestari Hutan Leuser yang terus menyuarakan pentingnya melindungi hutan sebagai paru-paru alam dari ancaman kepunahan. (Instagram @wiiiiza)

PejuangKantoran.com - Aktivis lingkungan Farwiza Farhan menjadi salah satu orang yang paling terpukul dengan terjadinya bencana banjir bandang dan longsor di Sumatera.

Sebagai pelestari hutan di Kawasan Ekosistem Leuser, ia dikenal punya pemahaman mendalam tentang hubungan penting antara alam dan kemanusiaan.

Tak sekali-dua kali Farwiza mendorong kesadaran tentang perlunya melindungi jantung dan paru-paru alam yang kaya dan terancam punah di negara Indonesia dan Asia.

Baca Juga: Praz Teguh Berhasil Kumpulkan Donasi Nyaris Rp1M untuk Korban Banjir dan Langsung Terjun ke Daerah Terisolir

Ekosistem Leuser terus mengalami keterancaman dari deforestasi, infrastruktur, sampai komersialisasi. Meski kawasan ini sudah menjadi Warisan Dunia UNESCO pada 2004, kondisi makin parah akibat lemahnya penegakan hukum bagi para pelanggar.

Sejak bencana banjir dan longsor terjadi, perempuan berusia 39 tahun ini terus meng-update apa yang sudah dilakukan oleh organisasi yang didirikannya, Yayasan Hutan, Alam dan Lingkungan Aceh (HakA).

Selama seminggu sejak bencana terjadi, ia kehilangan kontak dengan rekan-rekan kerjanya dari HAkA berikut para konsultan dan jurnalis yang ada di Linge, Takengon, dan tersebar di penjuru Leuser.

Update terakhir melalui Instagram Story-nya, @wiiiiza, Kamis (4/12/2025), Farwiza mengabarkan bahwa seluruh staf HAkA sudah berhasil dievakuasi.

“Sebetulnya marah banget, tapi enggak sempat marah. Banyak yang dihadapi, banyak yang harus di-handle,” ujar Wiza, sapaan akrabnya.

Ketika ditanya apa yang ingin disampaikannya pada Presiden Prabowo dalam wawancaranya bersama IDN Times, Wiza mengatakan bahwa keputusan Presiden untuk mengurangi budget di semua lini penopang kehidupan pemerintah dan memfokuskan semuanya di MBG (Makan Bergizi Gratis) punya dampak sangat besar.

Baca Juga: Dampak Kerusakan Hutan yang Terjadi 40 Tahun Lalu Masih akan Dirasakan Generasi Mendatang

“Karena pada akhirnya demi makan siang gratis kami jadi membayar dengan harta, dengan nyawa, dengan apa yang kami punya. Bagaimana BMKG nggak punya cukup budget? Bagaimana BNPB nggak punya cukup budget?

“Bagaimana semua itu bisa dibiarkan, dan pemerintah masih bilang semua ini biasa saja? Bahwa semua keadaan sudah terkontrol, sudah stabil? Jauh sekali dari itu kenyataannya,” tukas Wiza dengan suara tergetar menahan amarah.

Denda US$26 juta kepada perusahaan sawit

Selama bertahun-tahun sejak mendirikan Yayasan HAkA (Haka Sumatra) pada 2012, Farwiza Farhan dan timnya terus memantau kerusakan dan dampak deforestasi, tidak hanya bagi lingkungan dan satwa liar, tetapi juga bagi masyarakat yang hidupnya bergantung pada ekosistem.

Halaman:

Tags

Terkini

Luvita Ho, Saat Dessert Menjadi Medium Cerita

Jumat, 1 Mei 2026 | 11:15 WIB