Dampak Kerusakan Hutan yang Terjadi 40 Tahun Lalu Masih akan Dirasakan Generasi Mendatang

photo author
Felicitas Harmandini, Pejuang Kantoran
- Kamis, 4 Desember 2025 | 15:17 WIB
Kawasan Batang Toru di Kabupaten Tapanuli Selatan mengalami kerusakan akibat deforestasi di Sumatera Utara. (ANTARA)
Kawasan Batang Toru di Kabupaten Tapanuli Selatan mengalami kerusakan akibat deforestasi di Sumatera Utara. (ANTARA)

PejuangKantoran.comBencana banjir dan longsor yang melanda Aceh, Sumatera Utara, dan Sumatera Barat yang dimulai sejak 22 November 2025, bukan hanya dipicu oleh cuaca ekstrem, tetapi juga deforestasi dan alih fungsi hutan.

Dr. Ir. Hatma Suryatmojo, S.Hut., M.Si., IPU., peneliti Hidrologi Hutan dan Konservasi DAS UGM, mengatakan bahwa curah hujan yang sangat tinggi saat itu memang menjadi pemicu terjadinya bencana.

Menurut pantauan BMKG, beberapa wilayah di Sumut diguyur lebih dari 300 mm hujan per hari pada puncak kejadian. Artinya, jauh di atas rata-rata curah hujan bulanan sebesar 150 mm. Di Aceh, curah hujan mencapai 300 mm per hari, sedangkan di Tapanuli Tengah dan Sibolga mencapai 800 mm dalam empat hari.

Baca Juga: Duka Banjir Bandang Aceh Timur: Bupati Ungkap Kekecewaan atas Lambatnya Respons Satpol PP

Curah hujan ekstrem ini dipicu oleh terbentuknya Siklon Tropis Senyar di Selat Malaka per 26 November 2025. Siklon itu bergerak menuju wilayah daratan Aceh dengan kecepatan sekitar 10 km/jam, sehingga menimbulkan potensi hujan lebat hingga ekstrem, disertai angin kencang.

“Namun, cuaca ekstrem hanyalah pemicu awal. Dampak merusak banjir bandang tersebut sesungguhnya diperparah oleh rapuhnya benteng alam di kawasan hulu,” ujar Hatma di Kampus UGM, Senin (1/12/2025), seperti dikutip UGM.ac.id.

Kerusakan ekosistem hutan di hulu Daerah Aliran Sungai (DAS) menghilangkan fungsi vital hutan sebagai "spons raksasa” yang menyerap air hujan ke dalam tanah, dan menahannya agar tidak langsung terbuang ke sungai.

Akibatnya, hutan tak mampu lagi menyerap air hujan, memicu erosi, dan limpasan permukaan air yang masif, sehingga terjadi banjir bandang.

“Air hujan yang deras tak lagi banyak terserap karena lapisan tanah kehilangan porositas akibat hilangnya jaringan akar. Akibatnya, mayoritasi hujan menjadi limpasan permukaan yang langsung mengalir deras ke hilir,” jelas dosen Fakultas Kehutanan UGM itu.

Dampaknya masih terasa hingga 40 tahun

Kerusakan hutan juga terjadi di wilayah Aceh. Hilangnya sebagian hutan di Aceh bahkan sudah terjadi sekitar 40 tahun lalu. Namun, dampaknya masih terasa hingga saat ini, dari banjir, rusaknya sungai, dan hilangnya ruang hidup bagi banyak mahluk.

Baca Juga: Tactical Vest yang Dipakai Verrell Bramasta di Lokasi Banjir Sumbar Ternyata Buatan Bandung

Hal itu belum lama disampaikan oleh Farwiza Farhan, pendiri dan Ketua Yayasan Hutan, Alam dan Lingkungan (Yayasan HAkA), dalam Green Talks Podcast Season 2 by Katadata Green, tepatnya pada 23 Oktober lalu.

Entah berapa hektar area hutan yang dialihkan fungsinya menjadi perkebunan kelapa sawit atau tambang. “Seolah-olah, hutan yang berdiri tegak itu tidak memberikan manfaat secara ekonomi,” ujar Farwiza, dalam obrolannya bersama Head of Executive Board Koalisi Ekonomi Membumi (KEM) Gita Syahrani.

Farwiza, yang selama ini aktif dalam program pelestarian Kawasan Ekosistem Leuser (KEL) di Aceh dan Sumatera Utara, pernah melakukan pemetaan relasi antara bencana dan deforestasi.

Halaman:
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel
di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Editor: Felicitas Harmandini

Sumber: ugm. ac. id, Instagram @katadatagreen, Instagram @wiiiiza

Tags

Artikel Terkait

Rekomendasi

Terkini

X