PejuangKantoran.com - Setiap tahun pada tanggal 10 Oktober, dunia memperingati Hari Kesehatan Mental Sedunia. Di tahun 2025, tema global yang diangkat adalah “Mental health in humanitarian emergencies”, menyoroti pentingnya kesehatan mental saat keadaan krisis dan bencana.
Di Indonesia, kesehatan mental menjadi isu yang semakin mendapat perhatian, terutama di lingkungan kerja kantoran di mana tekanan, jam kerja panjang, dan beban kerja sering menimbulkan stres, kecemasan, dan kelelahan mental.
Data riset kesehatan mental di Indonesia menunjukkan bahwa gangguan mental bukanlah kasus langka. Lebih dari 20 persen penduduk pernah mengalami gangguan psikologis, dan tingkat depresi rata-rata mencapai sekitar 6,1 persen. Namun yang mengejutkan, hanya sebagian kecil dari mereka yang mendapatkan penanganan medis.
Baca Juga: Rangga dan Cinta Jadi Hadiah Kelulusan Kuliah dan Pemenuhan Janji El Putra Sarira pada Orang Tua
Di kalangan pekerja formal seperti karyawan kantor, beban mental bisa lebih berat: tekanan target, tenggat waktu, tanggung jawab tim, dan ketidakpastian pasar kerja sering menjadi pemicu.
Belum lagi stigma terhadap orang yang “tak kuat mental”—beberapa orang takut dianggap lemah atau tidak kompeten jika mengaku kesulitan. Studi menunjukkan bahwa stigma ini masih tersebar luas, bahkan di kalangan mahasiswa kesehatan pun ada anggapan negatif terhadap orang dengan gangguan mental.
Baca Juga: Mengapa Pendaftaran SDUWHV Bisa Ditolak? Ini Penyebab Visa Ditolak dan Tips Supaya Lolos
Cara Menjaga Kesehatan Mental untuk Karyawan Kantoran
Menjaga kesehatan mental sebagai karyawan kantoran mensyaratkan lebih dari sekadar “tidur cukup” atau “libur weekend”. Berikut beberapa cara praktis yang bisa dilakukan:
-
Atur batas antara pekerjaan dan waktu pribadi: matikan notifikasi kantor di malam hari, jangan buka email kerja saat akhir pekan.
-
Sisihkan waktu untuk aktivitas yang menyenangkan dan melepas stres: olahraga ringan, hobi, atau sekedar jalan santai.
-
Cari dukungan sosial: teman, keluarga, atau rekan kantor yang bisa diajak berbicara jujur. Kadang saling curhat membantu meringankan beban mental.
-
Terapkan teknik relaksasi: meditasi, latihan pernapasan, mindfulness, atau istirahat pendek di sela jam kerja.
-
Jika gejala kecemasan, depresi, atau stres berat muncul secara rutin, pertimbangkan untuk mencari bantuan profesional seperti psikolog, psikiater, tanpa rasa malu.
Artikel Terkait
DPR Pastikan RUU Sisdiknas Baru Tetap Mengatur Tunjangan Guru, Bahkan akan Diperkuat
Gerakan Harmoni Nusantara Dorong Musisi Lokal Masuk ke Platform Digital secara Legal
Mengapa Menko PM Muhaimin Iskandar Ingin Hapus Tunggakan Iuran BPJS Kesehatan yang Sudah Triliunan?
Tarik-Ulur Anggaran Makan Bergizi Gratis: Menkeu Purbaya Siap Potong Dana, Luhut Pasang Badan!
Pekerja Perempuan Sudah Lebih Aktif Negosiasi Gaji, tapi Mengapa Kesenjangan Upah Masih Terjadi?
Adobe Resmi Luncurkan Firefly Boards, Jadi Ruang Kreatif AI untuk Kolaborasi dan Ide
Banyak Perusahaan Mengikuti Tren ke Kantor Tanpa Sepatu, Benarkah Bikin Lebih Fokus dan Produktif?
Dari Selandia Baru hingga Brasil, Ini 10 Negara dengan Work-Life Balance Terbaik di Dunia 2025
Utang BPJS Kesehatan Bakal Dihapus! Cak Imin Janji Masyarakat Bisa Mulai Lagi dari Nol November Nanti
Bjorka Kembali Beraksi Bocorkan Data 341 Ribu Anggota Polri, Benarkah Sang Hacker Masih Bebas?