Screen Fatigue, Penyakit Ini Umum Menimpa Pekerja Kantoran Modern Seperti Kamu

photo author
Sigit Triwahyu, Pejuang Kantoran
- Jumat, 5 Juni 2026 | 16:31 WIB
Screen fatigue sering menimpa pekerja kantoran modern, jangan diabaikan! (Pejuangkantoran.com/Made with Google AI)
Screen fatigue sering menimpa pekerja kantoran modern, jangan diabaikan! (Pejuangkantoran.com/Made with Google AI)

Pejuangkantoran.com – Bisa dibilang screen fatigue adalah “penyakit”-nya para pekerja kantoran modern. Screen fatigue (kelelahan akibat menatap layar monitor) adalah kondisi kelelahan fisik, mental, dan visual yang muncul setelah seseorang menghabiskan waktu lama menatap layar digital seperti komputer, laptop, tablet, atau ponsel.

Istilah ini sering digunakan secara umum untuk menggambarkan kombinasi dari berbagai penyakit, yaitu:

  • Digital Eye Strain (Computer Vision Syndrome): kelelahan mata akibat penggunaan layar.
  • Mental fatigue: kelelahan kognitif karena terus-menerus memproses informasi digital.
  • Physical fatigue: kelelahan otot dan sendi akibat postur duduk yang statis dalam waktu lama.

Akumulasi ini terjadi karena umumnya kita abai dan menganggap gejala yang dialami bukanlah hal yang serius. Oleh karena itu, kamu wajib mewaspadai gejala-gejala berikut ini:

  1. Gejala pada Mata: Mata lelah atau terasa berat, mata kering atau malah berair, penglihatan kabur sementara, sulit fokus, sensitif terhadap cahaya, mata terasa panas atau perih.
  2. Gejala pada Tubuh: nyeri leher, nyeri bahu, nyeri punggung, sakit kepala, dan pegal pada pergelangan tangan. Gejala ini sering terkait dengan gangguan muskuloskeletal seperti yang banyak dialami pekerja kantoran.
  3. Gejala Mental: Sulit berkonsentrasi, mudah terdistraksi, penurunan produktivitas, cepat lelah saat membaca dokumen, merasa "otak penuh" setelah rapat daring yang panjang.

Baca Juga: Kerja Seharian di Depan Layar? Lakukan 5 Kebiasaan Sederhana Ini untuk Meredakan Kelelahan Mata

Ada sejumlah penyebab mengapa screen fatigue terjadi.

Pertama, saat melihat layar (ponsel/komputer/laptop), kita akan cenderung lebih seidkit dalam berkedip. Dalam kondisi seseorang berkedip sekitar 15–20 kali per menit. Saat bekerja di depan komputer, angka tersebut dapat turun hingga sekitar separuhnya, sehingga mata menjadi lebih kering dan mudah lelah.

Kedua, saat bekerja dengan melihat layar (komputer/ponsel/laptop), otot mata harus terus berakomodasi untuk mempertahankan fokus pada jarak yang sama selama berjam-jam. Akibatnya otot mata menjadi tegang dan menimbulkan rasa lelah.

Ketiga, bekerja dengan gadget digital, baik ponsel maupun laptop/computer, kita sudah pasti akan menerima email, pesan instan, notifikasi, spreadsheet, presentasi, belum lagi rapat online yang membuat otak kita terus memprosesnya. Kondisi ini meningkatkan cognitive load (beban kognitif).

Keempat, bekerja dengan komputer/laptop dan ponsel dan dengan posisi layar yang tidak ideal, yaitu terlalu rendah atau terlalu tinggi dari posisi mata, dapat menyebabkan forward head posture, ketegangan leher, nyeri bahu, nyeri punggung atas.

Tidak heran jika screen fatigue banyak dialami oleh pekerja kantoran seperti kita. Logikanya, sepanjang hari kita selalu berurusan dengan email, mengolah dokumen dengan komputer, rapat online/virtual, belum lagi menggunakan ponsel setelah jam kerja.

Baca Juga: Digital Detox At Work, Diet Tidak Menggunakan Gadget Ternyata Perlu Dilakukan Di Kantor. Begini Caranya!

Bisa jadi, lebih dari 12 jam per hari kita terpapar oleh layar. Dan ini tidak bisa dibiarkan.

Jika dibiarkan, dalam jangka pendek bisa menyebabkan produktivitas menurun, kesalahan kerja meningkat, konsentrasi berkurang, kualitas tidur terganggu. Sementara dalam jangka panjang bisa menimbulkan keluhan mata kronis, nyeri leher dan punggung berulang, peningkatan stres kerja, dan risiko gangguan muskuloskeletal terkait pekerjaan.

Bagusnya, screen fatigue tidak menyebabkan kerusakan permanen pada mata pada kebanyakan orang, tetapi gejalanya dapat sangat mengganggu kualitas hidup dan kinerja sehari-hari.

Halaman:
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel
di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Editor: Sigit Triwahyu

Sumber: my.clevelandclinic.org, Berbagai Sumber, pubmed.ncbi.nlm.nih.gov

Tags

Artikel Terkait

Rekomendasi

Terkini

X