Sering Berbohong Bisa Berpengaruh Pada Kesehatan Mental. Ini Dampaknya dan Pemicunya!

photo author
Sigit Triwahyu, Pejuang Kantoran
- Rabu, 24 Juni 2026 | 14:15 WIB
Perilaku sering berbohong bisa berpengaruh pada kesehatan mental yang tidak bisa disepelekan. (Pejuangkantoran.com/Made with Google AI)
Perilaku sering berbohong bisa berpengaruh pada kesehatan mental yang tidak bisa disepelekan. (Pejuangkantoran.com/Made with Google AI)

Pejuangkantoran.com – Jangan pernah meremehkan perilaku berbohong. Selain menyakiti orang yang dibohongi, berbohong itu juga akan “menyakiti” diri pelaku bohong itu sendiri.

Ada bukti ilmiah bahwa kebiasaan berbohong dapat berdampak pada kesehatan. Namun, harus dipahami, yang merugikan kesehatan bukan kebohongannya secara langsung, namun stres psikologis, beban kognitif, dan respons fisiologis yang sering menyertai tindakan berbohong.

Apalagi ketika kebohongan dilakukan berulang-ulang atau harus terus ditutupi dengan kebohongan lain.

Ketika seseorang berbohong, menurut sejumlah penelitian psikofisiologi, akan memicu:

  • peningkatan denyut jantung,
  • peningkatan tekanan darah,
  • peningkatan aktivitas sistem saraf simpatis ("fight or flight"),
  • peningkatan hormon stres seperti kortisol,
  • beban kerja otak yang lebih tinggi karena harus mengingat fakta sebenarnya dan versi kebohongan yang disampaikan.

Mengapa berbohong bisa menimbulkan stres? Secara neurologis, melakukan kebohongan itu bukan tugas yang sederhana, tidak seperti yang kita duga.

Saat seseorang berbohong, maka otak harus menutupi informasi yang benar dan menciptakan informasi alternatif. Otak juga dipaksa untuk memastikan cerita bohong tersebut konsisten dan mengingat kebohongan sebelumnya agar tidak ketahuan.

Proses yang dilakukan oleh otak ini meningkatkan cognitive load (beban kognitif). Beban kognitif ini gampanya adalah seberapa keras otak kita harus bekerja untuk melakukan sesuatu pada saat tertentu.

Baca Juga: Jangan Suka Bohong di CV tentang Hal Ini, Bisa Membuat Kamu Susah Dapat Kerja di Masa Depan!

Berbohong yang dikaitkan dengan beban kognitif pada otak jika diaanalogikan,  sama mobil dengan kapasitas 5 orang tapi dijejali dengan 7-8 orang. Pasti mesin mobilnya akan “tersiksa”.  

Ada sebuah penelitian terkait dengan perilaku bohong yang dilakukan oleh University of Notre Dame. Penelitian ini disebut Science of Honesty Study. 

Seperti yang dimuat di new.nd.edu, penelitian ini dilakukan selama 10 minggu terhadap 110 peserta.

Kelompok yang berusaha mengurangi kebohongan sehari-hari melaporkan bahwa mereka lebih sedikit melaporkan keluhan fisik, lebih sedikit sakit kepala, berkurangnya ketegangan, kesehatan mental yang lebih baik, serta hubungan sosial yang lebih baik.

Peneliti juga menemukan bahwa ketika frekuensi berbohong menurun, berbagai indikator kesehatan juga membaik.

Dampak Kesehatan Berbohong

Halaman:
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel
di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizinĀ redaksi.

Editor: Sigit Triwahyu

Sumber: Berbagai Sumber

Tags

Artikel Terkait

Rekomendasi

Terkini

X