Olahraga Jadi Cara Baru Healing? Ini Alasan Workout Tak Lagi Sekadar Soal Kalori

photo author
Adhityaswara Nuswandana, Pejuang Kantoran
- Senin, 10 Agustus 2026 | 16:15 WIB
Olahraga semakin sulit dipisahkan dari konsep wellness. Workout tidak lagi semata-mata tentang berapa banyak kalori yang terbakar atau berapa kilogram beban yang berhasil diangkat, tetapi juga tentang bagaimana perasaan kita setelah selesai berolahraga. (Made by CHat GPT/PejuangKantoran.com)
Olahraga semakin sulit dipisahkan dari konsep wellness. Workout tidak lagi semata-mata tentang berapa banyak kalori yang terbakar atau berapa kilogram beban yang berhasil diangkat, tetapi juga tentang bagaimana perasaan kita setelah selesai berolahraga. (Made by CHat GPT/PejuangKantoran.com)

Olahraga memberikan kesempatan untuk keluar sejenak dari rutinitas tersebut.

Saat berlari, misalnya, perhatian bisa berpindah pada napas, langkah kaki, musik, atau pemandangan di sekitar. Ketika mengikuti kelas yoga atau pilates, seseorang harus lebih fokus pada gerakan dan posisi tubuh.

Sementara ketika melakukan latihan beban, konsentrasi pada teknik dan gerakan membuat perhatian tidak terus menerus tertuju pada pekerjaan atau notifikasi ponsel.

Bukan berarti olahraga otomatis menyelesaikan semua masalah.

Tetapi bagi banyak orang, waktu untuk bergerak bisa menjadi jeda yang dibutuhkan sebelum kembali menghadapi aktivitas sehari-hari.

Olahraga Juga Mulai Menjadi Aktivitas Sosial

Perubahan menarik lainnya terlihat dari bagaimana olahraga tidak selalu dilakukan sendirian.

Running club, kelas pilates, komunitas bersepeda, pickleball, badminton, hingga berbagai aktivitas olahraga kelompok semakin menjadi ruang untuk bertemu orang lain.

ACSM bahkan memasukkan Adult Recreation and Sport Clubs untuk pertama kalinya dalam daftar tren fitness 2026. Menurut ACSM, kemunculan tren ini dipengaruhi popularitas olahraga seperti pickleball sekaligus meningkatnya keinginan untuk mendapatkan koneksi sosial melalui aktivitas fisik. 

Jangan Sampai Wellness Justru Menjadi Sumber Stres Baru

Namun, tren wellness juga memiliki sisi lain yang perlu diwaspadai. Ketika semua hal mulai diukur—jumlah langkah, kalori, kualitas tidur, HRV, VO₂ max, recovery score hingga berat badan—olahraga justru bisa berubah menjadi sumber tekanan baru.

ACSM memang menempatkan teknologi wearable sebagai tren utama 2026 dan menyebut perangkat tersebut dapat membantu self-monitoring, akuntabilitas, serta pembentukan kebiasaan. Namun, data tersebut tetap perlu digunakan secara tepat dan tidak seharusnya menjadi satu-satunya dasar dalam mengambil keputusan terkait latihan.

Begitu juga dengan media sosial. Melihat orang lain berlari 10 kilometer, mengangkat beban berat, atau memiliki bentuk tubuh tertentu bisa menjadi inspirasi. Tetapi jika terus dibandingkan, olahraga yang seharusnya membuat seseorang merasa lebih baik justru dapat memunculkan tekanan terhadap tubuh dan performa.

Tujuan akhirnya bukan menjadi versi orang lain. Tujuan akhir olahraga adalah menjadi diri kita sendiri yang kita anggap nyaman.

Halaman:
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel
di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Editor: Adhityaswara Nuswandana

Sumber: Berbagai Sumber

Tags

Artikel Terkait

Rekomendasi

Terkini

X