Pejuangkantoran.com – Olah raga padel memang bisa dibilang “anak kandung” olah raga tenis lapangan dan squash jika menilik sejarahnya.
Adalah Enrique Corcuera yang ingin membuat lapangan tenis di rumahnya di Acapulco pada tahun 1969.
Namun karena lahan di rumahnya terlalu sempit untuk ukuran tenis lapangan yang normal, maka Enrique lalu membuat lapangan tenis yang lebih kecil dan membatasi lapangan itu dengan tembok disekelilingnya supaya bolanya tidak keluar.
Enrique lalu memodifikasi raket dan aturannya sehingga lahirlah padel, mirip tenis lapangan namun dengan lapangan yang lebih kecil, bisa memukul bola yang memantul di dinding seperti squash.
Selain itu raketnya pun disesuaikan bentuk dan dimensinya, beda sekali dari raket tenis maupun raket squash. Bagaimana dengan bolanya?
Ternyata bola padel juga berbeda karakter, bentuk, dimensi, dan bahan penyusunnya dibanding dengan bola tenis dan bola squash. Tentu ini karena menyesuaikan dengan karakter olah raga itu sendiri.
Baca Juga: Padel Vs Lari, Mana yang Lebih Berat? Pahami Penjelasan Berikut Ini Supaya Tidak Salah!
Padel, dengan ukuran lapangan yang lebih sempit dibanding dengan tenis lapangan namun lebih luas dibanding dengan squash, akan menentukan karakter permainan.
Sebagai contoh, permainan tenis lapangan membutuhkan bola yang bisa mencapai jarak yang lebih jauh dibanding padel atau squash. Dan ini sudah pasti menentukan karakter bolanya.
Perbedaan Bola Padel, Tenis, dan Squash
Apa saja perbedaan bola dalam padel, tenis lapangan, dan squash?
Berikut ini ukuran lapangan ketiga olah raga raket yang mirip ini dan kebutuhan bola yang menyesuaikannya:
- Tenis
- Lapangan besar: sekitar 23,77 × 8,23 m (permainan single).
- Konsekuensi: bola harus bisa menempuh jarak jauh. Ini perlu bola dengan tekanan tinggi supaya pantulan kuat dan bisa melaju cepat.
- Hasilnya: rally panjang di baseline, permainan banyak mengandalkan kekuatan pukulan serta topspin.
- Padel
- Lapangan lebih kecil: sekitar 20 × 10 m, dengan dinding kaca.
- Konsekuensi: kalau bola sama seperti tenis, pantulan akan terlalu kencang, sehingga rally jadi sulit dikontrol dan bisa sangat singkat.
- Solusi: bola diberi tekanan lebih rendah agar pantulan bola pantulan lebih “jinak” dan sesuai ruang sempit serta bisa memanfaatkan strategi pantulan dinding.
- Hasilnya: rally lebih lama, permainan taktik (lob, smash, rebound dinding).
Baca Juga: 6 Alasan Mengapa Permainan Padel Membutuhkan Endurance atau Daya Tahan Fisik yang Prima
- Squash
- Lapangan jauh lebih kecil: 9,75 × 6,4 m, dinding tertutup penuh.
- Konsekuensi: kalau bola bertekanan seperti tenis/padel, pantulannya terlalu cepat sehingga permainan tidak terkendali.
- Solusi: bola tanpa tekanan, pantulan rendah, dan semakin hidup kalau dipanaskan.
- Hasilnya: rally cepat, intensitas tinggi, permainan banyak mengandalkan refleks dan penempatan bola di dinding.
Kesimpulan secara garis besar, dengan ukuran lapangan yang lebih besar, maka dalam permainan tenis lapangan butuh bola yang bisa kencang supaya bisa menjangkau jauh.