PejuangKantoran.com - Beberapa tahun terakhir, roti sourdough kembali naik daun. Tidak hanya karena tampilannya yang khas dan rasanya yang sedikit asam, tetapi juga karena banyak orang mulai percaya bahwa roti ini lebih sehat dibanding roti biasa. Di balik popularitasnya, ternyata ada alasan ilmiah yang cukup menarik.
Berbeda dari roti konvensional yang menggunakan ragi instan, sourdough dibuat dari starter, campuran tepung dan air yang difermentasi selama berhari-hari hingga tumbuh ragi alami dan bakteri asam laktat. Proses panjang ini tidak hanya memberi cita rasa unik, tetapi juga mengubah struktur kimia dalam adonan.
Ahli nutrisi menjelaskan bahwa fermentasi alami membuat sourdough lebih mudah dicerna. Gluten dan pati sebagian terurai, sehingga tubuh tidak perlu bekerja terlalu keras untuk mencernanya. Meski demikian, sourdough tetap bukan pilihan bagi penderita celiac karena masih mengandung gluten, hanya dalam bentuk yang lebih sederhana.
Selain itu, proses fermentasi menghasilkan asam organik seperti asam laktat dan asam asetat. Kedua senyawa ini dapat membantu menstabilkan kadar gula darah karena memperlambat proses penyerapan glukosa. Artinya, sourdough cenderung memiliki indeks glikemik lebih rendah dibanding roti putih biasa — menjadikannya alternatif yang menarik bagi mereka yang ingin menjaga kadar gula darah tetap stabil.
Tak berhenti di situ, fermentasi juga membantu mengurangi kadar asam fitat, zat alami dalam biji-bijian yang sering disebut “anti-nutrisi” karena menghambat penyerapan mineral. Dengan begitu, nutrisi seperti zat besi, magnesium, dan seng dari tepung bisa diserap tubuh lebih efektif.
Namun, penting untuk berhati-hati: tidak semua roti berlabel “sourdough” di pasaran benar-benar difermentasi secara alami. Banyak produsen hanya menambahkan bahan pengasam atau sedikit ragi untuk meniru rasa khas sourdough tanpa melalui proses fermentasi panjang. Padahal, manfaat kesehatannya justru berasal dari proses itulah.
Baca Juga: Jerome Polin Buka Lowongan Editor-Designer dan Guru Matematika, tapi Mengapa Banyak yang Protes?
Makan sourdough juga bukan berarti kita bisa makan roti sepuasnya. Pada dasarnya, roti tetaplah sumber karbohidrat dan kalori yang perlu dikonsumsi dengan bijak. Selain itu, bakteri baik yang tumbuh selama fermentasi memang bermanfaat, tapi sebagian besar mati saat roti dipanggang dalam suhu tinggi. Meski begitu, sisa serat dan senyawa prebiotik tetap bisa memberi manfaat bagi kesehatan usus.
Jadi, jika Anda sedang mencari pilihan roti yang sedikit lebih baik bagi pencernaan dan gula darah, sourdough bisa jadi pilihan yang tepat — terutama jika dibuat dengan cara tradisional dan menggunakan tepung utuh. Proses fermentasi alaminya menghadirkan bukan hanya rasa yang kompleks, tapi juga kisah panjang tentang kesabaran, tradisi, dan sains yang bekerja dalam sepotong roti.