PejuangKantoran.com - Kamu sering menghabiskan waktu, tenaga, atau energi yang berlebihan untuk memperbaiki atau mengurangi kesalahan? Suka merenung atau mengkritik diri sendiri secara berlebihan? Atau sulit menerima kesalahan sekecil apapun? Jika ya, kemungkinan kamu seorang perfeksionis.
Kalau kamu merasa sebagai perfeksionis, sebaiknya berhati-hati. Sebab, orang yang perfeksionis cenderung mengalami burnout, begitu menurut sebuah penelitian. Dan, penyebab burnout ini bukan hanya karena stres terkait pekerjaan.
Pakar kesehatan mental dan penulis studi tersebut, Profesor Gordon Parker, mengatakan bahwa burnout sudah menyebar di kalangan orang-orang yang sukses di tempat kerja, dan menjadi semakin lazim dalam kehidupan pribadi.
Baca Juga: Cara Atasi Burnout Karena Pekerjaan: Kurangi Ekspektasi
“Kebanyakan orang mengira burnout adalah masalah pekerjaan,” katanya. “Namun, analisis kami menunjukkan bahwa kelelahan juga bisa berkembang sebagai akibat dari sifat-sifat kepribadian, terutama perfeksionisme.”
Orang yang perfeksionis biasanya menetapkan harapan tinggi yang tidak realistis untuk diri mereka sendiri dan orang lain. Mereka cepat menemukan kesalahan dan terlalu kritis terhadap kesalahan.
Mereka juga cenderung menunda proyek karena takut gagal. Selain itu mereka sering mengabaikan pujian dan lupa merayakan keberhasilan mereka.
Perfeksionisme dapat disebabkan oleh ketakutan akan penilaian atau ketidaksetujuan dari orang lain. Bisa juga karena pengalamannya di masa kecil, karena memiliki orangtua dengan harapan tinggi yang tidak realistis.
Baca Juga: Ini Hal-hal yang Menyebabkan Si Bos Juga Mengalami Burnout
Kemungkinan lain adalah, orang yang perfeksionis memiliki kondisi kesehatan mental yang berhubungan dengan kecenderungan perfeksionis, seperti gangguan obsesif-kompulsif (OCD).
“Orang-orang dengan sifat perfeksionis biasanya adalah pekerja yang luar biasa. Tetapi, mereka juga rentan terhadap burnout karena menetapkan standar yang tidak realistis dan tak henti-hentinya, yang akhirnya mustahil untuk dipenuhi,” jelas Profesor Parker, yang juga psikiater klinis dan Profesor Psikiatri di University of New South Wales, Australia.
Menurutnya, orang yang berjuang dengan burnout tidak hanya mengalami kelelahan, tetapi juga “disfungsi kognitif”, yang kadang-kadang dikenal sebagai “kabut otak”.
Mereka juga terputus dari teman dan keluarga mereka, serta mengalami penurunan kinerja yang biasanya terlihat dalam pekerjaan dan tugas di sekitar rumah.
Baca Juga: Jangan Salah, Ternyata Si Bos Lebih Burnout daripada Kamu
Pandemi yang berlangsung selama tiga tahun terakhir juga membuat banyak orang tumbang. Kekhawatiran yang terjadi selama lockdown, tekanan inflasi, dan tekanan hidup lainnya, membuat banyak orang merasa sudah tidak tahan lagi.
Artikel Terkait
Mau Tahu, Keuntungan Investasi Emas Logam Mulia dalam Jangka Panjang?
Menu Minuman Baru Starbucks yang Bisa Bikin Kamu Semangat Kerja: Bukan Cuma Kopi
Kalender Cuti 2023 dan Jadwal Liburan: Siap-siap Ambil Cuti Ya
Ramai Petisi "Kembalikan WFH", Kebijakan Sistem Hybrid Kurang Membantu?
Benarkah Perppu Cipta Kerja Menetapkan Aturan Istirahat Mingguan Hanya Sehari dalam Sepekan?