Jangan Salah, Ternyata Si Bos Lebih Burnout daripada Kamu

photo author
Felicitas Harmandini, Pejuang Kantoran
- Senin, 21 November 2022 | 07:00 WIB
Ilustrasi: Akibat burnout, 70% eksekutif perusahaan berpikir untuk berhenti dari pekerjaan. (Pexels/Khwanchai Phanthong)
Ilustrasi: Akibat burnout, 70% eksekutif perusahaan berpikir untuk berhenti dari pekerjaan. (Pexels/Khwanchai Phanthong)

PejuangKantoran.com - Kamu mengalami burnout akibat beban pekerjaan yang tinggi, dan menganggap si bos cuma enak-enakan? Hm… nanti dulu. Konflik kehidupan kerja dialami siapa saja, dan bahkan bos juga tidak kebal. Menurut penelitian oleh konsultan Deloitte, hampir 70% manajer mengalami burnout sehingga berpikir untuk berhenti dari pekerjaan.

Sebuah survei terhadap 2.100 karyawan dan eksekutif tingkat C yang dilakukan oleh Deloitte dan Workplace Intelligence menemukan, baik karyawan maupun pemimpin berjuang untuk memprioritaskan kesejahteraan mereka dalam dua tahun sejak pandemi mengubah dunia. Bukti bahwa si bos juga mengalami burnout.

Tiga perempat (76%) eksekutif tingkat C yang disurvei mengatakan pandemi berdampak negatif terhadap kesejahteraan mereka. Apa tanda-tanda bahwa atasan juga mengalami burnout? Satu dari tiga pekerja dan eksekutif mengatakan mereka selalu atau sering merasa lelah, stres, kewalahan, kesepian, bahkan depresi.

Baca Juga: Berapa UMP 2023? Ini Jawaban Menaker

Pekerjaan sepertinya menjadi penghalang bagi karyawan dari semua tingkatan untuk mencapai kesejahteraan yang lebih baik. Survei menemukan, 63% karyawan dan 73% pemimpin tingkat eksekutif merasa pekerjaan tidak memungkinkan mereka untuk mengambil cuti dan berhenti memikirkan pekerjaan untuk sementara.

Penelitian juga menunjukkan, bagi 68% karyawan dan 81% eksekutif, meningkatkan kesejahteraan lebih penting daripada memajukan karier mereka saat ini. Begitu besar harapan mereka sehingga 57% karyawan dan hampir 69% eksekutif serius mempertimbangkan untuk mengundurkan diri.

Dan Schawbel, mitra pengelola di Workplace Intelligence, menganggap temuan itu sebagai peringatan bagi perusahaan untuk mengatasi bagaimana pekerjaan sehari-hari berdampak pada kesejahteraan karyawan.

Baca Juga: Berapa UMP 2023? Ini Jawaban Menaker

"Pengunduran diri besar-besaran menunjukkan bahwa karyawan tidak lagi mau mentolerir pekerjaan yang membuat mereka terus-menerus kelelahan, dan studi kami dengan Deloitte menyoroti bahwa para eksekutif juga muak dengan keadaan tersebut," katanya.

Manajer berada dalam posisi keuangan yang lebih baik untuk mencari peluang baru. Mungkin itu sebabnya mengapa mereka lebih termotivasi untuk mengundurkan diri.

Jelas bahwa kesejahteraan menjadi kepedulian dari atasan ke bawahan. Tetapi meskipun 95% eksekutif tingkat C setuju bahwa mereka harus bertanggung jawab atas kesejahteraan karyawan, 68% mengakui bahwa usaha mereka tidak cukup keras dalam hal ini. Paul Silverglate, pemimpin Akselerator Eksekutif dan Wakil Ketua Technology Sector Deloitte, mengatakan baik karyawan maupun atasan berjuang untuk menemukan dukungan perusahaan yang mereka butuhkan untuk mengatasi hal-hal seperti keseimbangan antara beban kerja dan work-life balance.

Baca Juga: 7 Rekomendasi Thrift Shop untuk Baju ke Kantor

Menurutnya, para manajer harus lebih mengakui dan melakukan tindakan yang lebih besar seputar masalah kesehatan. Sebab hanya sekitar setengah dari karyawan dan dua pertiga dari manajer mengatakan bahwa mereka menggunakan seluruh jatah cuti, beristirahat di siang hari, cukup tidur, dan menemukan waktu untuk teman dan keluarga.

Perbaikan kecil di semua area ini dapat berdampak kumulatif pada peningkatan kesejahteraan, keterlibatan, dan produktivitas di tempat kerja. Hal inilah yang bisa menentukan keberhasilan jangka panjang bagi perusahaan dan mendorong karyawan untuk bertahan.

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel
di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizinĀ redaksi.

Editor: Felicitas Harmandini

Sumber: ZDnet

Tags

Artikel Terkait

Rekomendasi

Terkini

X