Kurangi Makanan Olahan, Kalau Mau Mencoba Menurunkan Berat Badan dengan Cepat

photo author
Felicitas Harmandini, Pejuang Kantoran
- Sabtu, 14 Januari 2023 | 17:29 WIB
Ilustrasi: Bacon dan sosis adalah contoh makanan olahan, yang sebaiknya dihindari kalau kamu ingin menurunkan berat badan. (Freepik/Racool Studio)
Ilustrasi: Bacon dan sosis adalah contoh makanan olahan, yang sebaiknya dihindari kalau kamu ingin menurunkan berat badan. (Freepik/Racool Studio)

PejuangKantoran.com - Profesor Tim Spector, OBE FMedSci, peneliti diet dan ahli epidemiologi di King's College, London, mengatakan bahwa olahraga saja tidak akan menurunkan berat badan.

Satu-satunya cara untuk menurunkan berat badan adalah dengan mengubah pola makan. Sedangkan olahraga fungsinya adalah untuk mencegah berat badan naik lagi.

Menurutnya, sebagian orang memang bisa menurunkan berat badan dengan melakukan defisit kalori. Tetapi hal itu hanya untuk jangka pendek; hampir semua orang kembali ke berat badan sebelumnya. Bahkan ada yang berat badannya naik lebih banyak daripada sebelumnya.

Baca Juga: Pakar: Olahraga Saja Tidak Akan Membuat Berat Badan Turun, Begitu Juga Menghitung Kalori

Dia menyebut pendekatan yang dianjurkan oleh NHS sebagai salah satu cara untuk menurunkan berat badan itu sebagai kamuflase. Akibatnya, orang hanya berfokus pada kalori daripada kualitas makanan mereka.

Profesor Spector lalu membagikan tiga tips untuk menurunkan berat badan atau mencapai berat badan paling sehat:

Hindari makanan ultra-olahan

Makanan ultra-olahan adalah makanan yang telah mengalami pemrosesan industri dan tidak terlihat seperti makanan aslinya. Makanan ini biasanya mengandung banyak tambahan garam, gula, lemak, dan bahan kimia lainnya.

Para peneliti menemukan bahwa orang yang mengonsumsi makanan ultra-olahan mengonsumsi 300 kalori lebih banyak per hari daripada orang yang mengonsumsi makanan olahan minimal.

Baca Juga: Hati-hati, Orang yang Perfeksionis Cenderung Mudah Mengalami Burnout!

Tip: Bagaimana cara mengetahui proses suatu makanan? Lihat saja berapa banyak bahan yang ada. Secara umum, semakin banyak bahan, semakin banyak pemrosesan makanan itu.

Cobalah makan dengan batasan waktu

Profesor Spector menyarankan untuk makan dalam kurun waktu sepuluh jam, lalu berpuasa selama 14 jam. Mirip ya, dengan intermittent fasting? Cara ini membuat “puasa” kamu tidak terasa berat karena sebagian besar terjadi semalaman saat kamu tidur.

Seperti kita, mikroba usus kita juga perlu istirahat dan memulihkan diri, sehingga kita bisa memberikan waktu untuk perbaikan lapisan usus.

Hasil penelitian dari ZOE Health Study menunjukkan, puasa ini membuat kita mengurangi ngemil, terutama larut malam, yang merupakan jam ngemil terburuk bagi kesehatan.

Halaman:
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel
di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Editor: Felicitas Harmandini

Sumber: The Daily Mail

Tags

Artikel Terkait

Rekomendasi

Terkini

X