Menurut Survei, Manajer Perekrutan Suka Berbohong. Ini Cara untuk Mengetesnya!

photo author
Felicitas Harmandini, Pejuang Kantoran
- Selasa, 5 September 2023 | 09:30 WIB
Ilustrasi: Ketahui cara untuk mengetes kebohongan tim perekrutan yang sangat tegas saat interview kerja. (Freepik/pressfoto)
Ilustrasi: Ketahui cara untuk mengetes kebohongan tim perekrutan yang sangat tegas saat interview kerja. (Freepik/pressfoto)

PejuangKantoran.com - Sebuah survei baru dari Resume Builder menemukan bahwa 36% manajer perekrutan suka berbohong kepada pelamar mengenai job desk atau kondisi perusahaan yang dilamarnya.

Sebenarnya, mungkin banyak pelamar yang tidak terkejut dengan temuan ini. Namun, itu tidak berarti bahwa para pencari kerja harus mentolerir perbuatan di mana manajer HR atau manajer perekrutan suka berbohong.

Survei tersebut menemukan bahwa topik kebohongan yang paling umum berkaitan dengan tanggung jawab pekerjaan, diikuti oleh peluang pertumbuhan, dan peluang pengembangan karir.

Baca Juga: Jika Ingin Bekerja di Perusahan Impian, Pahami Dulu Faktor-faktor yang Menentukan Pekerjaan Impian

Sebagai pelamar, kamu bisa mengetahui kapan manajer perekrutan suka berbohong mengenai masalah-masalah tersebut. Acara cara untuk mengetes kebohongan manajer perekrutan.

Namun, tentu saja kamu harus bertanya, dan pertanyaanmu ini mungkin akan sedikit berbeda dari kandidat lainnya.

Tanyakan mengenai frustrasi yang dirasakan karyawan

Untuk mengungkap ketidakjujuran mengenai tanggung jawab pekerjaan, kamu mungkin perlu mengambil langkah yang sedikit memutarbalikkan. Kecuali kamu bisa bertanya langsung pada karyawan yang saat ini bekerja di sana.

Ketika seseorang berbohong tentang tanggung jawab suatu pekerjaan, dia biasanya menutupi hal-hal yang tidak menyenangkan atau membuat frustrasi.

Jadi, kamu bisa mengetes kebohongan manajer perekrutan dengan bertanya, "Setiap orang mengalami frustrasi dalam pekerjaannya, jadi bisakah Bapak/Ibu menjelaskan tiga frustrasi terbesar yang dialami karyawan di sana saat ini?"

Manfaat dari pertanyaan ini bekerja pada berbagai tingkatan. Pertama, kamu memberitahu pada manajer perekrutan bahwa frustrasi di tempat kerja itu nyata.

Hal ini berdasarkan studi Leadership IQ mengenai frustrasi di tempat kerja, yang menemukan bahwa 60% karyawan mengatakan bahwa frustasi mereka begitu parah sehingga membuat mereka ingin mencari pekerjaan lain.

Kedua, manajer yang baik tahu apa yang membuat karyawannya frustrasi. Jika dia tidak dapat memberikan contoh nyata tentang frustrasi karyawan, dan langkah-langkah yang diambil untuk mengatasinya, hal ini menunjukkan bahwa dia tidak memperhatikan atau mengambil tindakan mengenai hal tersebut.

Ini menjadi peringatan penting bahwa kamu kemungkinan besar akan menghadapi masalah yang sama dengan karyawan yang sudah bekerja di sana.

Baca Juga: Wajar Jika Bosan dengan Pekerjaan, Coba Lakukan Ini untuk Mengatasi Kejenuhan dalam Bekerja

Halaman:
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel
di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizinĀ redaksi.

Editor: Felicitas Harmandini

Sumber: Forbes

Tags

Artikel Terkait

Rekomendasi

Terkini

X