Merasa Terisolasi dan Jadi Lebih Minder Jadi Dampak Negatif Kerja Remote. Kok Bisa?

photo author
Elga Windasari, Pejuang Kantoran
- Jumat, 23 Mei 2025 | 14:11 WIB
Jika kamu pelaku remote working, lakukan juga kegiatan sosial di luar pekerjaan untuk keseimbangan hidupmu. (charmax22)
Jika kamu pelaku remote working, lakukan juga kegiatan sosial di luar pekerjaan untuk keseimbangan hidupmu. (charmax22)

Pejuangkantoran.com - Meski tak banyak yang menyadari, tetapi bekerja jarak jauh atau remote bisa memengaruhi kesehatan mental.

Menurut survei yang dilakukan Resume Builder, ada 38% pekerja yang mengaku kesehatan mental mereka membaik sejak bekerja secara remote.

Namun, ada 17% pekerja melaporkan bahwa mereka mengalami penurunan kesehatan mental, dengan generasi yang lebih muda yang lebih mungkin mengalami efek negatif ini.

Kurangnya hubungan sosial menjadi faktor utama yang berkontribusi terhadap penurunan kesehatan mental di kalangan pekerja jarak jauh ini. Sebanyak 63% karyawan mengakuinya.

Setelah itu, ada 57% karyawan yang melaporkan meningkatnya perasaan terisolasi, khususnya mereka yang tinggal sendiri lebih dibandingkan dengan yang tinggal bersama keluarga atau teman sekamar.

Penyebab signifikan lainnya adalah kurangnya hubungan dengan rekan kerja (55%), tantangan dalam keseimbangan kehidupan kerja (36%), dan kurangnya minat atau hobi di luar pekerjaan (33%).

Baca Juga: Tren Pekerja Yang Memilih Untuk WFH atau Remote Working Meningkat. Ini Kendala Dan Solusinya!

Kerja remote juga pengaruhi citra diri

Sejak bekerja remote, satu dari tiga pekerja yang melakukan video call setiap minggu, mengatakan bahwa tampil di depan kamera membuat mereka merasa lebih sadar diri dengan penampilan fisiknya.

"Berada di depan kamera selama rapat virtual dapat memengaruhi citra diri dan kepercayaan diri,” ujar Kepala Penasihat Karier Resume Builder, Stacie Haller.

Menurutnya, rasa ketidaknyamanan ini seringkali berasal dari ketidakbiasaan melihat diri sendiri di layar atau berinteraksi dalam format digital.

Namun, karena video call menjadi bagian standar dalam kehidupan profesional, penting untuk beradaptasi dan membangun kenyamanan dengan media ini.

"Untuk memudahkan transisi, perusahaan dapat memberikan pelatihan yang membantu karyawan membangun kepercayaan diri dan mengurangi rasa minder,” sarannya.

Pelatihan dapat berupa mencakup kiat-kiat praktis untuk mengoptimalkan pencahayaan, sudut kamera, dan pengaturan layar, serta strategi untuk fokus pada percakapan, bukan pada gambar sendiri.

Halaman:
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel
di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizinĀ redaksi.

Editor: Sigit Triwahyu

Sumber: Resume Builder

Tags

Artikel Terkait

Rekomendasi

Terkini

X