Pejuangkantoran.com – Pernahkah kamu menghadapi seorang rekan kerja yang tiba-tiba mendatagimu dan mimik memelas mengiba padamu: “Kamu kan orang yang paling percaya sama aku, please tolong handle pekerjaanku dulu ya, aku ada kepentingan, nih!”
Jika pernah, jangan buru-buru mengiyakan karena ada “bau-bau” manipulatif dalam sikap dan kata-katanya. Waspada dengan perilaku seperti ini!
Menurut psikolog klini George K. Simon dalam bukunya In Sheep's Clothing: Understanding and Dealing with Manipulative People (1996), perilaku manipulatif adalah bagian dari “covert-aggression”.
Covert aggression adalah bentuk agresi terselubung di mana seseorang menyamarkan maksud dominasi atau pengendaliannya agar terlihat tidak menyerang.
Baca Juga: Karena Tidak Terukur, Kolaborasi di Tempat Kerja Jadi Lebih Sulit Dilakukan. Apa Solusinya?
Perilaku manipulatif ini dampaknya negatif, termasuk di tempat kerja. Dampak-dampak perilaku ini adalah:
- Menciptakan lingkungan kerja yang tidak sehat: Muncul rasa tidak percaya antar-rekan kerja, orang menjadi enggan berbagi iformasi dan bekerja sama, dan menurunnya rasa aman psikologis.
- Menurunkan produktivitas dan moral tim: Rekan kerja merasa frsutasi atau dimanfaatkan, semangat kerja menurun karena ada yang mengambil kredit dari pekerjaan orang lain, individu yang tulus menjadi enggak berkontribusi lebih.
- Membuat atasan salah menilai kerja: Menipulator sering tampil baik di depan atasn namun menjatuhkan rekan kerja di belakang, ketimpangn penilaian kerja, promosi yang tidak adil, atau kepercayaan yang salah.
- Menghambat inovasi dan kolaborasi: Seorang manipulator cenderung bermain aman dan tidak terbuka, ide-ide segar sulit muncul karena budaya saling curiga dan atkut dijatuhkan.
- Meningkatkan turnover (pergantian karyawan): Karyawan yang baik dan berintegritas bisa memilih keluar daripada terus-menerus menghadapi perilaku manipulative dan ketidakadilan.
- Merusak reputasi interna dan eksternal: Tim yang tidak solid bisa berdampak pada klien atau mitra kerja, dan jika manipulasi ini sudah merambah keranah etika atau integritas, maka bisa menghancurkan reputasi Perusahaan.
Baca Juga: Saat Ada Konflik di Tempat Kerja, Bolehkah Minta Bantuan HR? Ini Waktu Mereka Harus Turun Tangan!
Bagaiman kamu bisa mengetahui apakah perilaku seseorang itu manipulatif atau bukan, berikut orang yang manipulatif biasanya akan:
- Memutarbalikkan fakta agar terlihat benar atau menguntungkan dirinya.
- Bermain perasaan (playing victim) agar orang lain merasa bersalah atau simpati.
- Menggunakan pujian berlebihan untuk mendapatkan kepercayaan atau mengendalikan orang lain.
- Menyembunyikan niat sebenarnya dan bersikap manis di permukaan.
- Menekan secara halus agar orang lain mengikuti kemauannya tanpa sadar.
Contoh-contoh perilaku manipulatif:
- Mengatakan, “Kalau kamu benar-benar peduli sama aku, kamu pasti mau bantu” (padahal permintaannya tidak masuk akal).
- Membuat orang merasa bersalah karena tidak memenuhi keinginannya.
- Mengadu domba dua pihak agar dirinya tetap terlihat baik.
Perilaku manipulatif tadi, biasanya dilakukan oleh orang yang:
- Sulit mengakui kesalahan;
- Pandai berkata-kata namun tidak konsisten dalam tindakan;
- Cenderung menyalahkan orang lain saat sesuatu tidak berjalan sesuai keinginan;
- Sering menghindari tanggung jawab langsung.
Dengan mengetahui hal-hal tersebut di atas, kamu jadi bisa lebih berhati-hati dalam pergaulan kerja di kantor dan tetap bisa menjaga produktivitas diri kamu sendiri kamupun tim. ***
Artikel Terkait
4 Tanda Atasan yang Buruk, Mulai dari Menolak Mendengarkan Ide hingga Tak Mau Berbagi Informasi
9 Cara Orang Cerdas Menolak Pekerjaan Tambahan Secara Profesional
Cara Menolak Tugas di Luar Pekerjaan dengan Cara Profesional, Jangan Terus-Terusan Merasa Tidak Enak
4 Cara Bijak Menghadapi Tempat Kerja yang Sedang Bermasalah, Jangan Langsung Percaya Rumor!
Cara Terus Belajar Jadi Pemimpin Hebat dan Menularkan Kebiasaan Tersebut di Tempat Kerja
5 Cara Sederhana Mengatasi Gangguan di Tempat Kerja, Supaya Lebih Fokus Mengerjakan Tugas