Selain itu, AI bisa saja memberikan informasi yang tidak akurat.
Misalnya, membesar-besarkan pengalaman kamu atau memasukkan keahlian yang sebenarnya tidak kamu miliki.
Banyak perekrut pernah mengalami sendiri hal ini.
Saat membaca CV, pelamar terlihat sangat cocok. Namun, ketika wawancara kerja, ternyata semua yang tertulis di atas kertas tidak bisa dibuktikan.
Peter Swimm, mantan manajer di Microsoft, juga menambahkan bahwa perekrut merasa tidak dihargai jika pelamar memakai AI secara berlebihan.
Ini karena proses rekrutmen bukan hanya soal cocok di atas kertas, tetapi juga soal chemistry dan nilai yang sesuai.
Baca Juga: Rekruter Bisa Tahu Kamu Menulis Surat Lamaran dengan ChatGPT dari Tanda-tanda Ini!
Haruskah kamu berhenti pakai AI?
Jawabannya, tidak juga. AI masih bisa jadi alat bantu yang berguna, asalkan digunakan dengan bijak.
Misalnya, kamu bisa menggunakan AI untuk membantu membuat draf awal surat lamaran, menyusun ulang struktur CV, atau mencari inspirasi kalimat.
Namun, tetap pastikan isi lamaran benar-benar mencerminkan siapa diri kamu.
Edit hasil AI dengan kata-kata kamu sendiri, tambahkan pengalaman pribadi yang spesifik, dan pastikan kamu bisa menjelaskan semua yang kamu tulis saat wawancara nanti.
Ingat, perusahaan ingin mengenal kamu sebagai individu. Jadi, gunakan AI sebagai alat bantu, bukan sebagai pengganti.
Tetap jadilah versi terbaik dari diri kamu sendiri, bukan versi pintar dari mesin. ***
Artikel Terkait
10 Hal yang Harus Diperhatikan Saat Membuat Surat Lamaran Beasiswa yang Baik
Tak Salah Buat Surat Lamaran Kerja Pakai ChatGPT, Tapi HRD Tetap Butuh Ini dari Pelamar
Bergantung pada AI, Surat Lamaran Lulusan Baru Cenderung Plek-Ketiplek dengan Milik Kandidat Lain
3 Cara supaya Lamaran Kerja dan CV Kamu Lolos Applicant Tracking System
Cara Menunjukkan Keterampilan Kamu Dalam Memecahkan Masalah Dalam Surat Lamaran dan Resume
Hampir 2 dari 3 Pelamar Menggunakan AI untuk Membantu Proses Lamaran Kerja Mereka