Bergantung pada AI, Surat Lamaran Lulusan Baru Cenderung Plek-Ketiplek dengan Milik Kandidat Lain

photo author
Felicitas Harmandini, Pejuang Kantoran
- Senin, 6 Mei 2024 | 22:01 WIB
Ilustrasi: Kebanyakan pencari kerja baru mengandalkan AI untuk menulis surat lamaran, sehingga sebagian besar isi kalimatnya sama. (Freepik/Rawpixel)
Ilustrasi: Kebanyakan pencari kerja baru mengandalkan AI untuk menulis surat lamaran, sehingga sebagian besar isi kalimatnya sama. (Freepik/Rawpixel)

PejuangKantoran.com - Para pencari kerja baru saat ini umumnya datang dari Gen Z, generasi yang terbiasa menggunakan teknologi digital dan dengan cepat mengadopsi AI.

Mereka menggunakannya untuk berbagai keperluan, dari riset tugas hingga merencanakan liburan.

Namun, tanpa sadar mereka telah menyalahgunakan teknologi tersebut yang akhirnya malah merugikan diri mereka.

Baca Juga: Sejarah Sepatu Bata, Sepatu Asal Ceko yang Sering Dikira Produk Lokal!

Menurut Shoshana Davis, pendiri konsultan karier Fairy Job Mother, mengatakan bahwa generasi tersebut terlalu bergantung pada tools AI seperti ChatGPT untuk membuat surat lamaran dan jawaban lamaran kerja.

“Salah satu tantangan utama yang saya lihat saat ini adalah penggunaan AI, khususnya ChatGPT, yang tidak digunakan dengan cara yang benar dan tidak digunakan secara efektif,” ujar Davis.

Ia kerap berhubungan dengan pemberi kerja yang mempekerjakan 10 hingga 1.000 Gen Z setiap tahunnya.

“Para pemberi kerja mendapatkan ratusan surat lamaran yang sama persis kata demi kata,” katanya.

Mereka juga menerima jawaban atas pertanyaan lamaran pekerjaan yang sama, dan menduga hal itu merupakan hasil penggunaan ChatGPT.

Menurut Davis, kita harus menerima teknologi dan AI. Namun, menyalin jawaban dari ChatGPT dapat merusak peluang kita untuk mendapatkan pekerjaan.

Baca Juga: Sebagai Walikota London, Sadiq Khan Bisa Menetapkan Gaji dan Tunjangan Pensiunnya Sendiri

Faktanya, Januari lalu survei Canva terhadap 5.000 manajer perekrutan dan 5.000 pencari kerja dari Inggris, AS, India, Jerman, Spanyol, Prancis, Meksiko dan Brasil, menunjukkan, 45% pencari kerja menggunakan AI untuk membuat, memperbarui, atau menyempurnakan resume mereka.

Berbagai survei dari lembaga yang lain menunjukkan hal yang sama.

Tampaknya Gen Z memang paling banyak mengandalkan AI, demikian menurut survei Grammarly pada bulan Februari terhadap 1.002 pekerja pengetahuan dan 253 pemimpin bisnis.

Kabarnya, 61% Gen Z mengatakan mereka tidak dapat membayangkan melakukan tugas-tugas pekerjaan tanpa menggunakan AI generatif.

Halaman:
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel
di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizinĀ redaksi.

Editor: Felicitas Harmandini

Sumber: Make It

Tags

Artikel Terkait

Rekomendasi

Terkini

X