PejuangKantoran.com - Kamu tipe yang punya teman akrab di kantor atau justru tidak punya teman karena tidak mau berteman dengan rekan kerja?
Sayangnya, saat ini banyak yang mengabaikan hubungan tulus di tempat kerja karena lebih memilih untuk memisahkan kehidupan profesional dan pribadi. “Kantor tempat untuk kerja, bukan untuk cari teman,” banyak yang berpikir seperti itu.
Erwin McManus, seorang penulis pemenang penghargaan dan pendiri komunitas Mosaic, tak setuju dengan hal tersebut. Justru menurutnya ada satu hal yang dimiliki oleh orang-orang yang mencintai pekerjaannya, yaitu teman akrab di tempat kerja.
Baca Juga: Main di Film Komedi Gampang Cuan, Vino G. Bastian Mengaku Kudet dalam Hal Keuangan
"Kebanyakan orang merasa burnout di kantor bukan karena pekerjaannya sulit, tetapi karena tidak memiliki teman akrab di tempat kerja," katanya.
Menurut Erwin, ada manfaatnya memiliki setidaknya satu teman akrab di tempat kerja.
"Faktanya, saya rasa sebagian besar penelitian menunjukkan, bahwa orang yang mencintai pekerjaannya biasanya memiliki satu teman baik di tempat kerja," lanjutnya.
Erwin mengakui, hasil dari kerja keras saat bekerja bisa menjadi hal yang menggembirakan dan menjadi penyemangat bagi seseorang, tetapi semua itu akan semakin terasa jika memiliki teman.
Begitu juga sebaliknya. Seseorang bisa merasa cepat lelah dengan pekerjaan yang dijalaninya, bahkan pekerjaan mudah sekalipun, jika dia sendirian dan tidak memiliki teman.
"Menurut saya, kelelahan tidak ada hubungannya dengan seberapa keras pekerjaan itu, tetapi seberapa ia merasa sendirian," ujarnya.
Baca Juga: Usai Dikudeta di Perusahaan Sendiri Open AI, Sam Altman Malah Direkrut Jadi CEO Ketiga Microsoft
Makin banyak orang yang merasa burnout di tempat kerja
Menurut penelitian dari Future Forum, burnout terus meningkat sejak 2021. Dari 10.243 pekerja penuh waktu yang bekerja di belakang meja yang disurvei di enam negara, termasuk Amerika Serikat, lebih dari 40% mengatakan bahwa mereka mengalami burnout.
Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) mendefinisikan burnout sebagai semakin adanya jarak seseorang dengan pekerjaannya, perasaan seperti kehabisan energi saat bekerja, dan sikap negativisme dengan pekerjaan.
Ada dua kelompok yang lebih berisiko mengalami burnout: yaitu perempuan dan pekerja di bawah 30 tahun.