PejuangKantoran.com - Dalam beberapa tahun terakhir, ada berbagai fenonema di dunia kerja yang menentang budaya kerja keras yang sebelumnya menjadi hal yang lazim.
Sekarang, fenomena di dunia kerja yang sedang viral adalah “lazy girl job”. Apakah ini tren yang positif atau justru negatif?
Istilah "lazy girl job" pertama kali dipublikasikan di The Wall Street Journal. Ini merupakan istilah terbaru dari sekian banyak frasa tentang dunia kerja yang sedang viral.
Baca Juga: Kenapa Kamu Mengantuk Setelah Makan? Ini Jawabannya!
"Lazy girl job" merujuk pada pekerjaan remote yang fleksibel dan non-teknis, bergaji tinggi, dan tidak memerlukan upaya ekstrem atau sasaran kinerja yang sulit. Kedengarannya ideal, ya?
Sebenarnya, memiliki keseimbangan antara kehidupan pribadi dan kehidupan kerja, tentu saja tidak bisa dibilang malas. Namun, itulah intinya.
Jika dibandingkan dengan mentalitas "kerja, kerja, kerja" yang lebih tradisional, memiliki pekerjaan yang tidak menghabiskan waktu pribadinya, bisa dianggap sebagai suatu kemalasan.
Manfaat “lazy girl job”
Ada beberapa manfaat yang akan dirasakan jika mengikuti tren “lazy girl job”, yaitu:
Fleksibilitas. Kamu bisa menyesuaikan jadwal kerja dan menyeimbangkan dengan kehidupan pribadimu.
Peningkatan keterampilan. Banyak dari jenis pekerjaan “lazy girl job” yang secara alami meningkatkan kemahiran digital, misalnya pemasaran afiliasi, pembuatan konten, atau pengelolaan media sosial.
Baca Juga: Apa Saja Bisnis Para Pemenang Masterchef Indonesia Selain Jadi YouTuber? Mampir, Yuk!
Kompetensi ini sangat dihargai di dunia kerja yang berpusat pada digital, dan dapat membuka pintu menuju karir yang menjanjikan.
Work life balance. Dengan memungkinkannya perpaduan yang harmonis antara pekerjaan, usaha sampingan (jika ada), dan kehidupan pribadi, ini dapat mengurangi risiko kelelahan.
Eksplorasi karir. “Lazy girl job” juga berfungsi sebagai jendela ke berbagai sektor dan perdagangan sehingga membantu menentukan minat dan jalur karir masa depan.