PejuangKantoran.com - Kalau burnout adalah istilah untuk menggambarkan perasaan terjebak dalam siklus stres, kelelahan, dan pekerjaan yang seolah tak ada habisnya, ternyata ada perasaan lain yang lebih muram dari itu.
Bahkan, para pakar mengatakan bahwa perasaan ini bisa menjadi penghancur karir tersembunyi banyak orang. Namanya adalah rust-out.
Rust-out disebut sebagai pembunuh karir diam-diam, yang saat ini mulai dirasakan di dunia kerja. Sumbernya dari perasaan tidak terinspirasi dan tidak terpuaskan, apa pun hasil pekerjaannya.
Apa itu rust-out?
Istilah rust-out mengacu pada perasaan tidak tertarik pada pekerjaan. Perasaan ini biasanya muncul ketika tugas yang kamu lakukan tidak berhasil menantang keterampilan dan kemampuan diri. Akibatnya kamu merasa lesu, apatis, dan bosan.
Beberapa tanda dari rust-out adalah:
• Rasa tidak tertarik pada pekerjaan yang terjadi terus-menerus.
• Menurunnya antusiasme terhadap tantangan baru.
• Sering cepat marah dengan rekan kerja atau tugas yang diberikan.
• Merasa kehilangan chemistry dengan rutinitas harian dalam bekerja.
• Merasa stagnan dan tidak puas terus-menerus.
Saat kamu fokus untuk menghindari burnout, secara tidak sadar kamu mungkin mengekspos diri pada rust-out. Meskipun dampaknya tidak langsung terlihat seperti burnout, tetapi sama-sama berbahaya.
Orang yang paling terpengaruh oleh rust-out
Meski siapa pun bisa terkena rust-out tanpa membeda-bedakan, tetapi tampaknya kondisi ini cenderung terjadi pada kaum perempuan.
Baca Juga: Rookie, Status untuk Pendatang Baru yang Bukan Main-main
Di era ketika banyak orang memperjuangkan kesetaraan dan keragaman gender, masih banyak pekerjaan yang membuat perempuan menanggung beban konsekuensi yang tidak proporsional.
Perempuan sering merasakan beban kerja yang tidak adil, dan harus bekerja lebih keras dari rekan kerja laki-laki untuk kemajuan karir yang sama.
Rasa ketidakadilan ini dapat menjadikan perempuan korban rust-out karena secara bertahap menyebabkan perasaan tidak bersemangat.