kubikel

Merantau, Kisah Semangat dan Perjuangan Manusia demi Pekerjaan dan Hidup yang Lebih Baik

Selasa, 26 Maret 2024 | 14:34 WIB
Ilustrasi perantau (Pexels)

PejuangKantoran.com - Jakarta dikenal dengan kemajemukannya. Beragam suku, ras, dan agama berkumpul di Jakarta. Ada berapa orang di kantor yang ternyata berasal dari daerah alias anak rantau.

Jakarta menjadi sebuah melting pot, bahkan mungkin dengan visi dan misi yang sama, mencari kehidupan yang lebih baik. Mereka semua merantau ke Jakarta.

Perantauan atau si anak rantau memang bukan hal yang aneh di Jakarta. Merantau pun bahkan terkesan jadi sebuah kewajiban jika ingin punya pekerjaan yang lebih baik dan hidup lebih baik. 

Baca Juga: Selandia Baru Peringkat Satu Negara Terbaik di Dunia yang Menerapkan Work Life Balance

Masyarakat Madura adalah salah satu suku yang patut diacungi jempol soal kemampuan adaptasi dan semangat rantaunya. 

Sering menjadi perbincangan bahwa masyarakat Madura yang nampak ada di mana saja. Seperti halnya di wilayah Nusantara, mulai pulau Jawa, Kalimantan, hingga Papua. Bahkan penjuru dunia seperti Arab Saudi, Turki, hingga Jepang.

Menyoroti hal itu, Antropolog UNAIR Dr Mohammad Adib Drs MSi mengatakan faktor ekonomi menjadi pendorong utama mengapa masyarakat suku Madura merantau ke mana- mana.

“Bermigrasi dilakukan oleh suku bangsa manapun, seperti contohnya masyarakat Minang yang mewajibkan laki-laki untuk merantau. Yang membedakan dengan suku Madura adalah mereka merantau karena mencari jalan hidup yang lebih sejahtera,” ungkapnya.

“Tak serta-merta suku Madura saja yang merantau karena wilayah tak mencukupi. Ini juga berlaku bagi semua suku yang kuantitasnya banyak.”

Baca Juga: Tutor Belajar Berbasis AI dari Khan Academy Jadi Salah Satu Perusahaan Paling Inovatif Tahun 2024

Dua Faktor Pendorong Merantau

Motivasi budaya merantau masyarakat suku Madura dengan suku Minang sangat berbeda.

Masyarakat Minang menganut sistem matrilineal, adat yang mengatur alur keturunan berasal dari pihak ibu (tidak punya hak warisan). Sehingga laki-laki ‘kurang berarti’ jika tidak merantau. Sementara itu, motif utama masyarakat Madura merantau adalah faktor ekonomi.

Seperti diketahui, kata Dr Adib, Madura memiliki tanah yang tidak cocok atau tidak subur untuk menanam. Sehingga masyarakat Madura harus mengakali perekonomian mereka, yakni dengan cara merantau ke daerah lain.

Halaman:

Tags

Terkini