PejuangKantoran.com - Tak bisa dipungkiri, umpan balik atau feedback dari atasan sering dianggap sebagai penghargaan yang membantu melihat kekurangan dalam pekerjaan yang dilakukan.
Namun, terkadang umpan balik juga bisa jadi hal yang canggung untuk dibicarakan.
Meski bisa mendukung perkembangan perusahaan atau pekerja, jika feedback disampaikan di waktu yang kurang tepat, dampaknya malah bisa jadi negatif.
Baca Juga: Sebelum Menentukan Mana Yang Akan Kamu Piilih, Pahami Perbedaan Menabung Dengan Berinvestasi
Pelatih karir Madhu Maron mengatakan bahwa umpan balik yang disampaikan tanpa rasa saling menghargai dapat berdampak buruk. Terlebih lagi, jika cara penyampaiannya tidak didasari konteks atau pada waktu yang kurang tepat.
Ini akan membuat si penerima feedback merasa kebingungan bagaimana cara memperbaiki diri, bahkan mungkin jadi kehilangan semangat kerja.
Terlalu menekankan kekurangan saat menyampaikan umpan balik, tanpa mengakui pencapaian yang sudah dilakukan juga bisa merugikan. Ini dapat membuat orang merasa minder karena merasa tidak pernah cukup baik.
Madhu menyarankan agar perusahaan menciptakan budaya yang lebih sehat dan mendukung dengan memastikan adanya peraturan yang jelas.
Feedback bukan alat penghakiman
Feedback dari atasan sebaiknya tidak hanya disampaikan secara lisan, tetapi juga lewat tulisan. Namun, pastikan sudah menyampaikannya secara langsung, baru menuliskannya.
Jadi, tanggapan secara tertulis bisa berfungsi sebagai catatan permanen yang bermanfaat bagi penerima di masa depan.
Beberapa perusahaan juga menggunakan 360 degree feedback, atau umpan balik yang diberikan dari berbagai pihak. Misalnya dari rekan kerja, manajer, bawahan langsung, bahkan mungkin dari klien. Jadi, bukan hanya feedback dari atasan.
Namun, apa pun teknik feedback yang dilakukan perusahaan, Madhu menyarankan untuk membuat seperangkat perjanjian kerja yang memandu bagaimana struktur yang konsisten dalam menyusun umpan balik.
Selain itu, jelaskan juga pada semua karyawan seperti apa umpan balik yang efektif.