Ia bahkan yakin bahwa jika tidak ada seorang pun yang memiliki integritas, lebih baik perusahaan mempekerjakan orang yang “malas dan bodoh”.
Pernyataan ini mungkin kontroversial, tetapi sebenarnya memiliki kenyataan yang sangat mendasar.
Misalnya, jika pemimpin senior memiliki manajer yang tidak memiliki integritas, maka manajer tersebut hanya akan memikirkan kepentingan diri sendiri. Bahkan bisa saja dia memanipulasi orang lain untuk keuntungan pribadinya dan tidak memenuhi misi organisasi.
Itulah sebabnya pemimpin senior dan eksekutif harus waspada terhadap perilaku tersebut. Mereka juga harus bisa memberi contoh bagaimana cara bekerja keras yang dibarengi dengan kejujuran dan integritas.
Baca Juga: 5 Skill yang Dibutuhkan Manajer Tahun 2025, dari Literasi Teknologi hingga Manajemen Perubahan
Berdampak positif pada perusahaan
Selama Buffett dan perusahaannya melatih kepemimpinan dan eksekutif, mereka mengamati bahwa banyak perusahaan dengan budaya integritas kuat yang memiliki keunggulan kompetitif.
Komitmen ini tidak hanya menumbuhkan kepercayaan dan loyalitas di antara para karyawan, tetapi juga memperkuat hubungan dengan klien dan pemangku kepentingan.
Hasilnya? Kesuksesan jangka panjang.
Bisnis yang memprioritaskan perilaku etis cenderung akan menarik bagi pelanggan setia dan karyawan yang berdedikasi.
Ini membuat lingkungan kerja menjadi terpercaya. Dan ini tak ternilai harganya dalam dunia bisnis apabila integritas bisa tumbuh subur dalam perusahaan. (Elga Windasari)