PejuangKantoran.com - Sekarang ini, sudah banyak perusahaan yang meminta bantuan AI untuk melakukan wawancara kerja untuk mendapatkan kandidat terbaik.
Ternyata, cara ini lebih menguntungkan pencari kerja karena hasilnya lebih adil dibandingkan dengan wawancara kerja dengan manusia.
Apalagi, psikolog organisasi Shiran Danoch mengatakan bahwa wawancara kerja dengan manusia yang dilakukan pagi hari lebih berpeluang membuat kandidat mendapatkan nilai lebih tinggi. Hal ini tentu hanya menguntungkan kandidat yang kebagian jadwal wawancara pagi.
Baca Juga: Melon Premium Asal Desa Bansari Dihasilkan dari Greenhouse melalui Program Desa BRILiaN
Namun, jika AI memiliki lebih banyak tanggung jawab dalam perekrutan, para pencari kerja tidak perlu khawatir mengenai waktu wawancara.
AI tak memiliki bias
Kiki Leutner, salah satu pendiri SeeTalent.ai, mengatakan bahwa pewawancara yang mengajukan pertanyaan terbuka saat wawancara kerja sering kali menimbulkan lebih banyak bias atau praduga dibandingkan dengan AI.
Bersama perusahaan rintisannya, Leutner telah meneliti etika AI dan penilaian secara umum dengan cara membuat tes yang dijalankan oleh AI untuk mensimulasikan tugas-tugas yang terkait dengan suatu pekerjaan.
Hasilnya, wawancara kerja dengan AI bisa membuat kandidat memiliki kesempatan yang lebih besar untuk mendapatkan pekerjaan.
Ini karena AI tidak akan melakukan wawancara secara tidak terstruktur, mengajukan pertanyaan sesukanya, dan membuat keputusan berdasarkan praduga.
Baca Juga: Huawei MatePad 12 X, Generasi Terbaru dari Seri Tablet Terlaris dengan Layar yang Canggih
Lalu, karena semuanya direkam maka ada dokumentasi tentang keputusan yang diambil AI dan apa yang mendasarinya. Informasi tersebut dapat digunakan untuk memperbaiki algoritma.
“Proses yang terstruktur ini lebih baik dalam perekrutan daripada wawancara kerja yang tidak terstruktur,” kata Leutner.
Manusia bisa sangat berprasangka
Eric Mosley, salah satu pendiri dan CEO Workhuman, pembuat alat untuk mengenali pencapaian karyawan, mengatakan bahwa data yang dibuat oleh manusia akan menjadi tidak proporsional karena pada dasarnya manusia memang kerap berprasangka.