“Rasa tidak bahagia meskipun memiliki banyak kekayaan ini memunculkan rasa malu dan bersalah pada mereka,” jelasnya.
Tekanan sosial memperburuk keadaan
Kebiasaan hidup konsumtif atau tekanan sosial menjadi masalah yang semakin relevan di tengah dunia yang semakin materialistis, seperti saat ini.
Jika kamu terus-menerus berbelanja lebih dari kemampuan, utang yang dihasilkan bisa menyebabkan perasaan cemas yang berkelanjutan.
Baca Juga: Wawancara Langsung Dengan Meta AI Mengungkap Bahwa Meta AI Juga Dilatih oleh Manusia.
Tekanan sosial bahkan bisa membuat kamu menghabiskan uang demi membeli barang-barang mewah atau mengikuti tren, meskipun tidak mampu secara finansial.
Ini tidak hanya menciptakan kesenjangan finansial, tetapi juga berkontribusi pada masalah identitas dan juga tingkat kecemasan yang lebih tinggi.
Studi yang diterbitkan Psychology Today menyebut bahwa orang yang memiliki utang cenderung mengalami tingkat kecemasan yang lebih tinggi dibandingkan dengan mereka yang tidak memiliki utang.
Ini dipicu oleh ketakutan akan finansial yang tidak pasti di masa depan dan kemampuan untuk melunasi utang-utang tersebut.
Miliki hubungan yang baik dengan keuangan
Reynal percaya hubungan dengan uang harus diajarkan sejak anak-anak karena itu bukanlah keterampilan bawaan.
Baca Juga: Berikut Ini 6 Langkah Bagaimana Cara Menghadapi Atasan yang Tidak Memahami Pekerjaan Kamu
Jika seseorang tumbuh dewasa tanpa tahu bagaimana caranya memiliki hubungan baik dengan uang, dampak yang bisa terjadi adalah mengeluarkan uang secara berlebihan, terlalu serakah, atau bahkan menyimpan rahasia keuangan dari pasangan.
Dengan belajar pengelolaan keuangan yang bijak sejak dini dan kesadaran mengenai dampak psikologis dari belanja berlebihan, kamu akan menghindari masalah mental yang lebih besar.
Jangan ragu mencari bantuan profesional untuk mengatasi kecemasan dan stres terkait masalah keuangan yang dimiliki. (Elga Windasari)