Penelitian pada 2021 menemukan bahwa lingkungan kerja yang toxic tidak hanya menurunkan produktivitas, tetapi juga memperburuk suasana kerja.
Aura negatif di tempat kerja dapat memicu stres, kelelahan, kecemasan, bahkan depresi.
Sayangnya, perusahaan justru menilai generasi muda terlalu banyak menuntut daripada memperbaiki sistem kerjanya.
Baca Juga: Agar Masa Depan Lebih Mapan meski Gaji Pas-pasan, Lakukan Perencanaan Keuangan Ini Sejak Umur 20-an
4. Gaji lebih kecil dari biaya hidup
Biaya hidup yang terus meningkat, seperti harga makanan, biaya pendidikan, dan sewa rumah yang kini lebih mahal dari cicilan rumah generasi sebelumnya, membuat gaji minimum terasa jauh dari cukup.
Laporan dari World Economic Forum mencatat bahwa satu dari lima anak muda menganggur karena pasar kerja menawarkan ekspektasi yang tidak realistis.
Bahkan, banyak pekerja magang yang bernasib tidak dibayar meski sudah bekerja.
5. Micromanagement
Gaya kepemimpinan yang terlalu mengontrol justru menciptakan lingkungan kerja yang toxic dan menghambat perkembangan pekerja.
Baca Juga: Jangan Cuma Scrolling Medsos, Ini 7 Kegiatan yang Bikin Kamu Lebih Rileks setelah Bekerja
Padahal, penelitian pada 2019 menunjukkan bahwa pekerja yang merasa bahagia lebih produktif hingga 13%.
Dengan waktu kerja yang bisa mencapai 90.000 jam seumur hidup, generasi muda memilih untuk menghindari tempat kerja yang tidak mendukung kesejahteraan mereka.
6. Minimnya peluang karir
Banyak anak muda merasa bahwa bertahun-tahun bekerja di perusahaan tidak menjamin kenaikan jabatan atau gaji.