kubikel

Bukan Kerja Tatap Muka, Remote, atau Hybrid yang Membuat Karyawan Puas. Ini Faktor Utamanya!

Jumat, 21 Februari 2025 | 15:29 WIB
Mau remote working, hybrid atau bekerja di kantor, pada dasarnya orang sudah menentukan apa yang paling sesuai dengan mereka. (Freepik)

Pejuangkantoran.com - Beberapa tahun terakhir, pasca pandemi Covid-19, banyak perusahaan yang mulai memanggil karyawan untuk kembali bekerja di kantor. Alasan utamanya adalah untuk meningkatkan produktivitas, inovasi, dan keterlibatan.

Uniknya, apa pun cara kerja yang dilakukan oleh pekerja, ternyata hasilnya tak akan jauh berbeda.

Mengapa? Karena pekerja yang bekerja secara langsung, jarak jauh atau remote, dan hybrid, melaporkan tingkat keinginan untuk berhenti, kelelahan, usaha, dan kepuasan yang sama.

“Tidak ada pemenang yang jelas dalam hal model kerja, yang memberikan pengalaman dan produktivitas karyawan yang tinggi,” menurut laporan baru dari McKinsey.

Jumlah pekerja remote dan hybrid turun

Pada 2024, 68% profesional mengatakan bahwa mereka sebagian besar bekerja secara langsung, setidaknya empat hari dalam seminggu.

Menurut survei pada Oktober 2024 terhadap 8.426 karyawan dan 3.531 eksekutif, angka tersebut naik dari 34% dibandingkan pada 2023.

Baca Juga: Gen Z Suka Remote Working Tapi Tak Suka Diawasi. Peran Manajer Tergantikan Oleh AI?

Sementara itu, jumlah pekerja remote justru turun menjadi 17% dari 44% selama periode waktu tersebut. Lalu, jumlah pekerja hybrid juga turun dari 22% menjadi 14%.

Namun, meskipun terjadi perubahan, para pekerja ini melaporkan bahwa mereka senang dengan pengaturan kerja mereka saat ini.

Hampir 8 dari 10 pekerja yang bekerja secara langsung atau yang hybrid merasa puas dengan jadwal mereka, dibandingkan dengan sekitar 9 dari 10 pekerja remote.

“Hal ini menunjukkan bahwa apa pun perubahan yang terjadi, orang-orang memiliki model kerja yang mereka sukai,” kata Brooke Weddle, penulis laporan dan mitra senior di McKinsey.

Meski begitu, masih ada 39% pekerja yang tetap ingin berhenti, tak peduli mereka bekerja remote atau tatap muka karena bukan itu faktor pendorongnya.

Hal ini serupa dengan 40% pekerja yang melaporkan ingin berhenti selama masa Great Resignation.

Halaman:

Tags

Terkini