PejuangKantoran.com - Hidup dengan penyakit kronis memang berat rasanya. Dari timbulnya gejala, diagnosis, hingga akhirnya menemukan pengobatan yang efektif, hal itu tidak mudah dijalani.
Proses perawatan dan pengobatannya bisa panjang dan penuh tekanan. Apalagi jika kamu diharuskan untuk terus menjalani hidup dan bekerja seperti biasa.
Jika kamu mengalami rasa sakit karena prosedur invasif, kamu juga cenderung merasa cemas dan stres. Itu sebabnya, sakit bukan hanya merugikan kondisi fisik, tetapi juga mental.
Sekitar 30% orang yang mengidap penyakit kronis memiliki gangguan kesehatan mental, seperti depresi dan kecemasan. Hal tersebut akan mempengaruhi kemampuan kamu untuk berkonsentrasi.
Simpati tak sama dengan empati
Inilah yang sering tidak disadari oleh orang-orang yang memiliki rekan kerja dengan penyakit kronis. Mereka hanya bersimpati, tetapi bukan berempati. Artinya, meski peduli, mereka tidak mengerti sepenuhnya.
Banyak orang yang tidak sadar bahwa menderita penyakit kronis berarti kamu memiliki kondisi yang fluktuatif.
Hari ini baik-baik saja, namun besok mungkin saja kamu sulit bangun dari tempat tidur dan melakukan pekerjaan tepat waktu.
Apakah atasan perlu tahu?
Lalu, apakah kamu harus mengungkapkan kondisi medis ini kepada atasan?
Tergantung, karena ini adalah keputusan pribadi yang harus diambil tanpa tekanan.
Sarah Berthon, founder dan CEO Excel against the Odds, memilih untuk mengungkapkan kondisi medisnya karena ia harus meminta izin bekerja dari rumah.
Manfaat dari mengungkapkan status medis pada atasan adalah, perusahaan bisa memberikan dukungan yang tepat, yang kamu butuhkan.