Baca Juga: Lupa Nama Orang yang Kamu Kenal, Lebih Baik Mengaku atau Berpura-Pura? Coba Lakukan Cara ini!
Perlunya Panutan dan Mentor Perempuan dalam AI
Kurangnya panutan perempuan di bidang AI juga menjadi tantangan besar dalam mendorong keterlibatan dan mempertahankan perempuan dalam sektor ini. Penelitian menunjukkan bahwa kehadiran mentor atau guru perempuan dalam bidang STEM meningkatkan peluang perempuan untuk memilih karir di bidang tersebut.
Data dari Coursera mengungkapkan bahwa kursus STEM dengan setidaknya satu instruktur perempuan cenderung menarik lebih banyak pendaftaran perempuan, dengan kenaikan hingga 7%.
Namun, tantangan terbesar masih terletak pada mempertahankan perempuan di sektor teknologi. Di Indonesia, sekitar 56% perempuan di sektor teknologi tertarik untuk beralih ke peran non-teknis, yang menunjukkan adanya kesenjangan dalam retensi mereka di bidang ini.
Meskipun demikian, partisipasi perempuan dalam bidang STEM di Indonesia menunjukkan perkembangan positif, dengan angka partisipasi meningkat dari 27% pada tahun 2019 menjadi 33% pada tahun 2024. Ini adalah indikasi kemajuan yang menjanjikan dalam mempersempit kesenjangan gender.
Baca Juga: Contoh Jawaban Pertanyaan tentang Cara Mengatasi Konflik dengan Metode STAR saat Wawancara Kerja
Masa Depan yang Lebih Inklusif dalam Teknologi GenAI
Karine Allouche, Global Head of Enterprise di Coursera, menekankan pentingnya memastikan bahwa peluang dalam bidang GenAI dapat diakses secara merata.
"Indonesia menunjukkan antusiasme luar biasa dalam memahami dan memanfaatkan teknologi GenAI. Namun, untuk memperkuat daya saing global dan pengembangan tenaga kerja, kita harus memastikan bahwa perempuan memiliki akses yang setara dan dapat memimpin dalam bidang ini," ujar Karine.
"Dengan meningkatkan partisipasi perempuan, kita dapat memastikan bahwa AI berkembang dengan perspektif yang lebih luas dan inklusif, serta memberikan manfaat yang lebih besar bagi masyarakat.